Wisata Pulau Maratua: Belajar Arti “Rumah” dari Suku Bajau Kalimantan

Wisata Pulau Maratua

Kenalin, gue Awan. Umur 25 tahun. Kerjaan sehari-hari gue emang nggak jauh-jauh dari ngeriset data, nyari angle cerita, dan liputan ke sana kemari. Tapi di luar kesibukan itu, gue sama kayak cowok umur pertengahan dua puluhan lainnya: lagi pusing mikirin timeline hidup.

Di kota, obrolan tongkrongan udah mulai bergeser. Dari yang tadinya bahas game atau film, sekarang berubah jadi: “Wan, lo kapan ambil KPR?” atau “Udah ada tabungan buat DP rumah belum?”

Jujur, itu bikin gue lumayan overthinking. Makanya, untuk “studi kasus” kali ini, gue sengaja melarikan diri ke pesisir Kabupaten Berau. Tepatnya ke destinasi wisata Pulau Maratua. Gue butuh melihat dunia dari kacamata orang-orang yang nggak pusing mikirin sertifikat hak milik.

Observasi Lapangan: Laut Sebagai Halaman Depan

Perjalanan ke Maratua itu nguras energi, tapi visualnya juara. Birunya air laut di sini beda, bening banget sampai lo bisa liat dasar terumbu karang dari atas kapal.

 Suku Bajau Kalimantan - wisata pulau maratua

Tapi tujuan utama gue ke sini bukan sekadar snorkeling atau foto estetik di resor mewah. Radar riset gue mengarah ke perkampungan yang ngapung di atas air laut dangkal. Di sanalah menetap target observasi gue hari ini: Suku Bajau Kalimantan.

Suku Bajau ini sering dijuluki Sea Gypsies atau pengembara samudra. Mereka adalah manusia laut sejati yang konon bisa menyelam bebas ( freediving) nahan napas berbelas-belas menit di bawah air cuma buat nyari ikan.

Baca Juga : Wisata Bukit Kelam Sintang: Di sini Gue Merasa Kecil Namun Melegakan

Ngobrol Bareng Pak Aris di Pelataran Rumah Kayu

Gue merapat ke salah satu pelataran rumah kayu yang berdiri di atas tiang-tiang pancang. Di sana ada Pak Aris, warga lokal yang lagi ngerapihin jaring pancingnya. Kulitnya gelap terbakar matahari, tapi senyumnya lebar banget.

Setelah basa-basi ngasih sebatang rokok, obrolan kita mulai ngalir.

 Suku Bajau Kalimantan

“Nggak takut rumahnya rubuh kena ombak gede, Pak?” tanya gue santai sambil ngeliatin air laut yang persis ada di bawah lantai papannya.

Pak Aris ketawa lepas. “Ombak itu teman, Mas Awan. Daratan malah yang kadang bikin pusing. Kita orang Bajau dari lahir sampai mati urusannya sama air. Laut ini pekarangan kita, pasar kita, ya rumah kita.”

Gue nyatet kutipan itu di kepala. Buat Suku Bajau Kalimantan, rumah itu bukan bangunan beton berlapis cat mahal yang tanahnya harus dicicil 15 tahun ke bank. Rumah adalah laut itu sendiri. Kayu-kayu ini cuma tempat mereka numpang tidur.

Baca Juga : Desa Budaya Pampang: Bertemu Generasi Terakhir Telinga Panjang

Validasi Ulang Tuntutan Hidup

Sore itu, sambil duduk di beranda rumah Pak Aris ngeliatin sunset Maratua, ego gue sebagai “orang kota” yang merasa paling sibuk nyari duit, mendadak luntur.

awan dan sunset di pulau maratua

Gue merenung. Selama ini gue (dan mungkin banyak dari lo juga) terjebak dalam ilusi kalau sukses itu wujudnya adalah rumah petak di pinggir kota yang cicilannya bikin kita nggak bisa napas lega.

Sementara di wisata Pulau Maratua ini, ada sekelompok manusia yang hidupnya merdeka banget. Mereka nggak punya sepetak tanah pun di darat, tapi mereka merasa memiliki samudra yang luasnya jutaan hektar. Ketenangan hidup mereka jauh melampaui orang-orang yang tiap bulan deg-degan nunggu approval KPR.

Baca Juga : Pendulangan Intan Cempaka: Mencari Kilau di Antara Lumpur dan Keringat

Merdeka di Atas Air

Studi lapangan gue hari ini ditutup dengan perasaan yang luar biasa lega.

wisata Pulau Maratua

Gue belajar banyak dari kesederhanaan Pak Aris dan keluarganya. Terkadang, penjara paling kejam itu bukan lingkungan, tapi ekspektasi yang kita buat sendiri di kepala.

Buat lo yang lagi ngerasa sumpek sama tuntutan hidup, coba deh sesekali nabung buat main ke Berau. Selain nikmatin keindahan wisata Pulau Maratua, luangkan waktu buat interaksi sama warga lokalnya. Liat gimana luasnya dunia ini, dan sadari kalau jalan hidup itu nggak cuma satu arah.

Baca Juga : Tanjung Puting, Hujan Desember, dan Tatapan Orangutan Kalimantan

Catatan Riset Si Awan

Menjangkau Kepulauan Derawan dan Maratua memang butuh effort perjalanan laut pakai speedboat dari Tanjung Redeb (Berau) atau Tarakan. Pastikan lo bawa obat anti mabuk laut kalau perut lo nggak kuat goncangan.

Buat lo yang pengen ngerasain tidur di atas air tapi versi yang lebih proper dan nyaman, di Maratua banyak banget water villa yang estetik. Biar lo nggak pusing milih, mending cek komparasi harga dan rekomendasi penginapan terbaik di Kepulauan Derawan lewat Seindo Travel.

Sampai ketemu di jurnal observasi gue selanjutnya.

Baca Juga : Bamboo Rafting, Hujan Desember, dan Cara Berdamai dengan Arus

Loading

You Might Also Like

Leave a Reply