Bamboo Rafting, Hujan Desember, dan Cara Berdamai dengan Arus
Desember datang membawa hujan yang tak henti membasahi tanah Borneo. Bagi kebanyakan orang, ini alasan untuk menarik selimut. Namun bagi Bumi Putera—peneliti yang jiwanya telah lama disandera oleh pesona pulau ini—hujan adalah panggilan.
Ia meninggalkan kebisingan kota, memacu kendaraannya menembus jalanan basah menuju Hulu Sungai Selatan. Tujuannya satu: Loksado.
Bumi Putera tidak sedang mencari kemewahan. Ia sedang mencari jawaban atas kegelisahan akhir tahun. Di tengah hutan Pegunungan Meratus yang purba, ia ingin belajar pada satu hal yang sering dilupakan manusia modern yang sibuk dengan logika: seni mengikuti arus.
Bukan Sekedar Rakit Bambu
Tiba di tepian sungai, gemuruh air terdengar lebih garang dari biasanya karena debit hujan semalam. Di sana, berjejer rakit-rakit bambu (lanting paring) yang tampak sederhana, bahkan ringkih.
Bumi Putera menatap rakit itu. Sebagai akademisi yang terbiasa dengan perhitungan presisi, logikanya berontak. Bagaimana mungkin susunan bambu tanpa paku, hanya diikat tali, mampu menaklukkan jeram sungai yang liar ini?

“Aman kah ini, Mang?” tanyanya ragu pada seorang joki rakit paruh baya yang kulitnya legam terbakar matahari.
Lelaki itu, sebut saja Mang Udin, tertawa renyah sambil mengepulkan asap rokok linting. “Kalau dilawan, patah dia, Mas. Tapi kalau diikuti, bambu ini lebih kuat dari besi.”
Bumi Putera tertegun. Jawaban sederhana itu menghantam nalarnya.
Baca Juga : Tahun Baru 2026 Tak Harus Hura-Hura: Catatan Kecil di Tepian Kalimantan
Tarian di Atas Jeram
Perjalanan dimulai. Bumi Putera berdiri di atas bilah bambu yang licin. Kakinya basah, dingin menusuk tulang.
Ketika rakit mulai meluncur dihajar arus deras, insting pertamanya adalah panik. Tubuhnya kaku, berusaha melawan keseimbangan, mencoba mengontrol situasi seperti ia mengontrol data penelitiannya. Akibatnya, rakit justru berguncang hebat, nyaris terbalik menghantam batu besar.
“Lemaskan saja kakinya, Mas!” teriak Mang Udin dari belakang, tangannya cekatan memainkan galah panjang.

Bumi Putera menarik napas panjang, mencoba mematikan ego penelitinya. Ia mulai melemaskan otot, membiarkan tubuhnya bergerak seirama dengan guncangan rakit.
Ajaib. Rakit itu meliuk indah melewati celah bebatuan sempit.
Di tengah pengalaman bamboo rafting Sungai Amandit yang mendebarkan itu, Bumi Putera menemukan titik meditatifnya. Ternyata, hidup—seperti halnya sungai ini—tak selalu bisa dilawan dengan keras kepala. Ada kalanya kita hanya perlu menunduk, meliuk, dan percaya pada arus yang membawa kita ke hilir.
Baca Juga : Di Balik Megahnya Titik Nol: Menjelajahi Wajah Asli Wisata Penajam Paser Utara yang Mulai Berubah
Menatap Paru-Paru Borneo
Di tengah aliran yang mulai tenang, Bumi Putera mendongak. Di kiri-kanan sungai, hutan hujan Meratus menjulang angkuh. Hijau, lebat, dan basah. Kabut tipis menyelimuti pucuk-pucuk pohon meranti raksasa.
Ia teringat data-data kerusakan hutan yang sering ia baca di jurnal. Ada rasa nyeri di dada. Hutan ini adalah benteng terakhir. Jika Meratus gundul, tak akan ada lagi air yang mengalir di sini. Tak akan ada lagi tarian rakit bambu.

“Hutan ini atap rumah kami,” ujar Mang Udin pelan, seolah membaca pikiran Bumi Putera. “Kalau atapnya bocor, orang di bawah pasti kebasahan.”
Bumi Putera mengangguk takzim. Perjalanan ini bukan sekadar wisata adrenalin. Ini adalah kuliah lapangan tentang kerendahan hati.
Baca Juga : Gunung Tertinggi di Kalimantan dan Hal-hal yang Tak Pernah Selesai dalam Diri Kita
Epilog: Kembali Pulang
Perahu bambu menepi di garis finish. Tubuh Bumi Putera basah kuyup, tapi hatinya terasa hangat. Hujan Desember yang tadinya ia kutuk, kini terasa seperti teman lama.
Ia datang dengan kepala penuh pertanyaan dan ketegangan logika. Ia pulang dengan satu jawaban sederhana: Mengalir.

Bumi Putera menyeka wajahnya. Ia siap kembali ke rutinitas, membawa serta dinginnya air Amandit dan keteguhan Meratus di dalam dadanya. Bahwa sekeras apapun arus kehidupan nanti, ia tak akan patah, selama ia pandai menari mengikuti irama.
Baca Juga : Kalimantan Hari Ini – Catatan Perjalanan dari Rimba ke Kota
Siap Menemukan Irama Hidupmu Sendiri?
Jika cerita Bumi Putera membuat Anda rindu pada aroma hutan basah dan ketenangan yang purba, Loksado menanti. Jangan biarkan hujan Desember menghalangi langkah; justru inilah saat terbaik melihat wajah asli Sungai Amandit.
Agar perjalanan kontemplasi Anda ke pedalaman Kalimantan Selatan tetap nyaman, pastikan logistik tertata rapi. Temukan tiket penerbangan ke Banjarmasin dan akomodasi terdekat dari Loksado melalui Seindo Travel.
Kami pastikan Anda mendapatkan tempat istirahat terbaik, agar setelah seharian berdamai dengan arus, Anda bisa tidur nyenyak dalam pelukan Pegunungan Meratus.
Selamat mengalir, Kawan.
Baca Juga : Bumi Putera dan Ekspedisi Kalimantan yang Tak Ada di Buku Panduan
![]()

Leave a Reply