Di Balik Megahnya Titik Nol: Menjelajahi Wajah Asli Wisata Penajam Paser Utara yang Mulai Berubah
Wisata Penajam Paser Utara – Debu kemerahan masih mengepul pekat saat mobil kami melintasi jalanan Sepaku siang itu. Di cakrawala, lengan-lengan crane raksasa tampak sibuk merangkai mimpi tentang ibu kota baru yang futuristik. Semua orang hari ini bicara soal masa depan, soal kemegahan Istana Garuda, dan soal peradaban baru. Namun, sore itu gue gak sedang mencari masa depan. Gue justru datang untuk mencari apa yang tertinggal—dan mungkin sebentar lagi akan hilang.
Di sela-sela hiruk pikuk truk material yang menderu, saya membelokkan kemudi ke arah yang lebih sunyi. Saya mencoba meraba kembali wajah asli wisata Penajam Paser Utara. Sebuah pertanyaan menggelitik muncul di kepala: apakah hutan bakaunya masih tenang? Apakah bekantan masih leluasa melompat, atau mereka kini hanya jadi penonton yang terasing di rumahnya sendiri?
Perjalanan ini bukan sekadar panduan liburan akhir tahun. Ini adalah catatan refleksi tentang sebuah tanah yang sedang dipaksa berubah rupa dalam waktu singkat.
Titik Nol Nusantara: Magnet Baru atau Sekadar Euforia Semata?
Tidak bisa dipungkiri, magnet utama orang datang ke sini sekarang adalah Titik Nol IKN. Area ini telah berubah menjadi ikon baru dalam peta wisata Penajam Paser Utara. Ribuan orang datang setiap minggunya, berdesakan demi sebuah foto di depan plang penanda geografis tersebut.

Titik Nol Nusantara
Namun, jika kita mau sedikit kritis, cobalah berdiri diam sejenak di sana. Di balik sorak sorai wisatawan yang takjub, ada paradoks yang terasa nyata. Kita sedang mengagumi konsep “Forest City” di atas tanah yang hutannya baru saja dibuka. Sebagai pelancong, kita dihadapkan pada dilema: kita datang untuk merayakan kemajuan, atau kita sedang melakukan “wisata perpisahan” pada bentang alam yang asli?
Baca Juga : Gunung Tertinggi di Kalimantan dan Hal-hal yang Tak Pernah Selesai dalam Diri Kita
Melarikan Diri ke Bukit Bangkirai: Sisa Napas Hutan Hujan Tropis
Lelah dengan debu proyek, saya bergerak menuju Bukit Bangkirai. Di sinilah kontras itu menghantam dengan keras. Jika di zona inti IKN telinga kita dipenuhi suara logam beradu, di sini—setidaknya untuk saat ini—suara gesekan daun dan serangga hutan masih mendominasi.

Memorial Park IKN
Meniti jembatan gantung (Canopy Bridge) di ketinggian 30 meter, saya merasa kerdil. Pohon-pohon Bangkirai raksasa yang usianya ratusan tahun ini berdiri kokoh, seolah menjadi saksi bisu. Bagi Anda yang mencari wisata Penajam Paser Utara yang autentik, tempat ini adalah jawabannya.
Namun, ada rasa was-was yang menyelinap. Dengan pembangunan yang makin masif di ring satu, mampukah raksasa-raksasa kayu ini bertahan? Atau kelak mereka hanya akan menjadi “taman kota” yang terkepung beton? Mengunjungi Bukit Bangkirai hari ini terasa seperti sebuah urgensi; nikmatilah selagi keasriannya masih “liar”.
Baca Juga : Kalimantan Hari Ini – Catatan Perjalanan dari Rimba ke Kota
Hutan Mangrove Mentawir: Benteng Terakhir di Pesisir Teluk
Perjalanan berlanjut ke arah pesisir, menuju Hutan Mangrove Mentawir. Ini adalah lokasi yang krusial. Secara ekologis, Mentawir adalah benteng pertahanan Teluk Balikpapan. Tanpa mangrove ini, abrasi akan mengganas.

Hutan Mangrove Mentawir
Sebagai destinasi wisata Penajam Paser Utara, Mentawir menawarkan ketenangan yang magis. Menyusuri sungai dengan perahu klotok, jika beruntung, kita bisa melihat Bekantan dengan hidung khasnya bertengger di dahan. Tapi, sekali lagi, keindahan ini menuntut tanggung jawab. Lonjakan turis pasca-IKN membawa ancaman sampah plastik. Jangan sampai kedatangan kita justru membunuh apa yang ingin kita nikmati.
Baca Juga : Bumi Putera dan Ekspedisi Kalimantan yang Tak Ada di Buku Panduan
Suara Lirih Warga Lokal di Tengah Deru Pembangunan
Sebuah perjalanan tak akan lengkap tanpa mendengar suara manusianya. Di sebuah warung kopi sederhana pinggir jalan Sepaku, saya berbincang dengan seorang ibu pemilik warung. Matanya berbinar saat menceritakan omzet yang naik karena banyaknya pekerja proyek dan turis.

Kantor Camat Sepaku
“Ramai sekarang, Mas. Tapi ya itu, kadang takut juga kalau nanti tanahnya butuh dipakai (negara),” ujarnya lirih.
Inilah sisi lain dari wisata Penajam Paser Utara yang jarang terpotret kamera influencer. Ada harapan ekonomi yang membumbung, tapi ada juga kecemasan akan terpinggirkan. Sebagai wisatawan, interaksi seperti ini penting. Membeli dagangan mereka bukan sekadar transaksi, tapi bentuk dukungan kecil agar mereka tetap bisa bertahan di tanah kelahirannya.
Baca Juga : Belajar Bahasa Kalimantan di Warung Kopi
Menjadi Wisatawan yang Sadar
Menjelajahi Penajam Paser Utara di penghujung tahun 2025 ini memberikan rasa yang campur aduk. Ada kagum, ada bangga, tapi juga ada sesak. Wajah Penajam memang sedang dipoles bedak tebal bernama IKN, tapi kecantikan alaminya masih ada di balik itu semua.

Lokasi Wisata Hutan Mangrove
Jika Anda berencana mengunjungi wisata Penajam Paser Utara bulan ini, datanglah dengan kesadaran penuh. Jadilah saksi sejarah yang kritis. Nikmati alamnya, hormati kearifan lokalnya, dan yang terpenting: jangan tinggalkan apapun kecuali jejak kaki, dan jangan bawa pulang apapun kecuali kenangan dan pemikiran baru.
Tertarik mengeksplorasi sisi lain Kalimantan yang belum banyak terjamah? Jangan lupa untuk terus memantau update terbaru di Eksotik Kalimantan. Bagikan artikel ini jika Anda setuju bahwa traveling bukan cuma soal foto bagus, tapi juga soal merawat alam dan ingatan. Sampai jumpa di perjalanan berikutnya!
Baca Juga : Lupakan Diet! 5 Rasa Otentik Kuliner Khas Pontianak yang Dijamin Tak Akan Kamu Temui di Jakarta
![]()

Leave a Reply