Misteri “Pasar Setan” Muara Kuin yang Pindah ke Atas Daratan
Bunyi kecipak dayung membelah Sungai Barito tak lagi seramai dulu. Galuh menatap nanar hamparan air yang kini sepi. Puluhan tahun lalu, di jam-jam sepagi ini, jukung-jukung saling bertubrukan, riuh oleh tawar-menawar acil-acil bertopi tanggui. Kini, pasar itu katanya sudah ‘mati’. Tapi bagi Galuh, pasar itu tidak hilang—ia hanya bermutasi, merayap naik ke atas daratan, meninggalkan sungai yang kesepian.
Masyarakat lokal sejak zaman dahulu kala kerap menjulukinya sebagai “Pasar Setan”. Sebutan mistis ini disematkan bukan karena adanya aktivitas sekte atau makhluk halus yang sedang bertransaksi, melainkan karena gairah hidup pusat perdagangan terapung ini yang datang dan pergi laksana hantu. Pasar terapung Muara Kuin ini menjelma menjadi sebuah riuh rendah yang luar biasa masif tepat sebelum fajar menyingsing di kegelapan buta, lalu mendadak lenyap tanpa bekas begitu matahari mulai meninggi memancarkan cahayanya.
Namun, kini simfoni alamiah yang legendaris itu telah sepenuhnya senyap dari permukaan air. Misteri terbesar yang terus menggelayut di kepala Galuh hari ini adalah bagaimana mungkin sebuah tradisi kebudayaan yang telah berdenyut kuat selama berabad-abad di atas air, perlahan-lahan bisa merayap naik, bermutasi, dan akhirnya memilih untuk berpijak di atas tanah kering yang gersang.
Memori Subuh Galuh di Atas Jukung Kayu
Dalam ingatan masa kecil Galuh, fajar subuh di kawasan Muara Kuin adalah tentang kehangatan murni dari sebuah interaksi antarmanusia. Di bawah kepungan kabut tebal Sungai Barito, ia masih bisa merasakan dengan jelas goyangan lambung perahu kayunya yang bergesekan akrab dengan jukung milik salah seorang Acil—sebutan khas Banjar untuk bibi atau tante—yang sedang menjajakan hasil bumi dengan wajah separuh tertutup oleh tanggui, topi caping anyaman lebar.

“Tukari pang pisangnya, lakah berataan, kena kemalaman habis pasarnya!” (Beli pisangnya, ayo cepat, nanti kesiangan pasarnya habis!) seru Acil pedagang tersebut dengan logat Banjar yang kental sembari menyodorkan satu sisir pisang mahuli yang kuning ranum. Jukung kayunya tampak sarat muatan, tenggelam hingga hampir menyentuh batas permukaan air sungai yang dingin.
Galuh tersenyum tipis mengenang momen itu, mengingat bagaimana jemari tangannya mengulurkan beberapa lembar uang yang langsung disambut dengan senyuman tulus penuh kehangatan. Di pasar terapung legendaris ini, sebuah transaksi ekonomi tidak pernah berjalan sekadar bertukar barang dan lembaran uang semata.
Ada teknik seni tersendiri dalam mengayuh dayung agar perahu tetap stabil saat menyerahkan barang dagangan, ada tawa renyah yang memecah keheningan kabut tebal, dan ada kepulan asap putih nan harum dari jukung seberang yang menjual Soto Banjar di atas kompor minyak tanah. Bagi Galuh, percakapan-percakapan singkat namun organik di atas riak air itulah yang menjadi denyut nadi utama yang menghidupkan pesona Muara Kuin. Sebuah interaksi sosial yang sangat indah dan tidak akan pernah bisa ditemukan di pasar daratan mana pun di belahan dunia ini.
Baca Juga : Desa Tumbang Titi (The Ironwood Heritage)
Ketika Riak Sungai Barito Kehilangan “Jiwa” Lamanya
Namun ketika Galuh kembali melayangkan pandangannya ke permukaan sungai hari ini, memori masa lalu tersebut terasa sangat jauh, seolah hanya menjadi dongeng pengantar tidur. Bagi Galuh, menyusuri garis perairan Muara Kuin di waktu subuh saat ini selalu memicu rasa rindu yang teramat getir sekaligus menyakitkan. Air sungai yang dulunya menjadi panggung utama pentas kehidupan ekonomi serta kebudayaan, kini mengalir tenang begitu saja—terlalu tenang, bahkan cenderung terasa seperti mati suri.

Satu-satunya suara yang membelah keheningan pagi kini hanyalah riak kecil dari satu-dua perahu nelayan tradisional yang kebetulan melintas hendak melaut. Tidak ada lagi benturan ritmis lambung jukung, tidak ada lagi aroma kopi tubruk subuh, dan tidak ada lagi kepulan asap dari jukung warung makan terapung yang menjajakan sarapan hangat bagi para pencari nafkah subuh.
Tantangan zaman dan modernisasi datang tanpa pernah mengetuk pintu terlebih dahulu, membawa pilihan-pilihan baru yang dianggap jauh lebih realistis bagi kelangsungan hidup warga sekitar. Akses infrastruktur darat yang semakin terbuka lebar serta kehadiran pasar-pasar modern yang bersih di setiap sudut kota secara perlahan tapi pasti mulai mengikis habis pasar setan dan ketergantungan masyarakat Banjar pada jalur perairan. Sungai Barito, tempat di mana Galuh dan generasi sebelum dirinya menghabiskan masa kecil yang penuh warna, mulai dipandang sebelah mata sebagai jalur transportasi yang melelahkan, kuno, dan kalah cepat oleh putaran roda-roda kendaraan di atas jalan aspal.
Baca Juga : Pulau Kembang, Banjarmasin (The Kingdom of the Outcasts)
Eksodus Massal para Pedagang ke Atas Tanah Kering
Perpindahan fisik Pasar Muara Kuin atau yang sering di sebut “Pasar Setan”, ini menuju wilayah daratan disaksikan langsung oleh Galuh sebagai sebuah proses pengikisan budaya yang berjalan perlahan namun memiliki dampak yang sangat mematikan bagi identitas lokal. Tahun demi tahun, ia melihat satu per satu para pedagang—termasuk generasi penerus dari para Acil terdahulu—mulai menepikan jukung kayu mereka untuk terakhir kalinya. Mereka mengikat erat tali tambat perahu di tiang-tiang dermaga kayu yang sudah mulai lapuk dimakan usia, memindahkan keranjang-keranjang anyaman rotan berisi buah dan sayur mayur ke pundak, lalu berjalan beriringan menapaki undakan tanah yang kering.

Di atas daratan yang berjarak hanya beberapa puluh meter dari bibir sungai, mereka mencoba membangun kembali sebuah ruang ekonomi baru. Mereka menggelar lapak dagangan di balik dinding semen, jalanan aspal, dan jajaran ruko-ruko beton yang kaku. Galuh menangkap ada sebuah rasa asing dan kecanggungan yang kentara menggelayut di raut wajah para pedagang tua. Kaki-kaki legendaris yang selama puluhan tahun terbiasa basah dan dingin oleh cipratan air sungai Barito, kini dipaksa untuk akrab dengan kebul debu jalanan dan panasnya uap aspal siang hari. Di pasar darat yang baru ini, buah dan sayur dagangan mereka tak lagi bergoyang mengikuti irama ritmis ombak sungai. Melainkan diam membeku di atas meja-meja kayu yang kering dan mati.
Baca Juga : Desa Tumbang Titi (The Ironwood Heritage)
Suara Klakson yang Menggantikan Kecipak Dayung Pagi
Fenomena misteri “Pasar Setan” yang memilih pindah ke atas daratan ini pada akhirnya melahirkan sebuah kontras visual serta auditori yang sangat mencolok di mata dan telinga Galuh. Jika pada masa jayanya telinga Galuh selalu dimanjakan oleh suara syahdu kecipak dayung kayu yang membelah air, sahutan ramah antarperahu, dan deru halus mesin kelotok yang memecah fajar, kini seluruh atmosfer magis tersebut telah sirna. Identitas suara itu kini digantikan secara paksa oleh bisingnya raungan knalpot sepeda motor, kepulan asap polusi kendaraan, serta bunyi klakson yang saling bersahutan kasar di tengah kemacetan jalan raya.
Pasar Muara Kuin memang tidak benar-benar lenyap dari peta. Aktivitas ekonominya tetap berputar dan hidup, namun ia kini berdenyut dengan detak jantung yang sama sekali berbeda. Berdagang dengan memijak tanah kering secara hitungan logistik dan keamanan memang diakui jauh lebih aman serta menguntungkan bagi para pedagang lokal. Mereka tidak perlu lagi didera rasa cemas jukung mereka akan karam dihantam ombak besar kiriman kapal barang, atau harus basah kuyup kedinginan saat badai subuh menerjang tanpa peringatan.

Namun, bagi Galuh dan sisa-sisa jiwa penjelajah perairan lainnya, menetap menetap di atas daratan membuat mereka harus merelakan hilangnya sesuatu yang sangat berharga namun tak kasat mata. Pasar Muara Kuin di atas darat mungkin telah berhasil menyelamatkan roda perekonomian masyarakatnya agar tidak tergilas zaman. Tetapi di saat yang bersamaan, mereka harus ikhlas merelakan sebagian besar “jiwa”, kehangatan manusiawi, dan pesona magis “Pasar Setan” mereka tertinggal selamanya, tenggelam membisu di dasar Sungai Barito yang kini kesepian.
Baca Juga : IKN: Sebuah Dialog Antara Beton dan Belantara
Kalau kamu tertarik untuk melihat langsung sisa-sisa sejarah Muara Kuin dan menjelajahi keunikan budaya di Kalimantan Selatan, kamu bisa merencanakan liburanmu lewat Seindo Travel. Mereka menyediakan tiket pesawat dan booking hotel dengan harga murah serta proses yang mudah. Yuk, langsung cek promonya dan pesan tiket perjalananmu di Seindo Travel sekarang!
![]()

Leave a Reply