Belajar Bahasa Kalimantan di Warung Kopi

bahasa-kalimantan

“Bahasa itu lucu, ya. Sama-sama Indonesia, tapi bisa bikin bingung setengah mati.”
Kalimat itu keluar begitu aja dari mulut gue waktu duduk di warung kopi kecil di pinggir jalan Samarinda. Di meja sebelah, ada dua bapak-bapak ngobrol pakai bahasa Kalimantan — dan jujur, gue gak ngerti setengahnya. Ada kata “ikam”, “ulun”, “ngini” yang lewat begitu cepat. Tapi entah kenapa, suaranya enak didengar. Lembut tapi berisi.

Satu dari mereka, bapak berkemeja kotak-kotak, nengok ke gue dan nyengir.
“Baru di sini, Nak?”
“Iya, Pak. Baru semingguan.”
“Pantes, wajahnya masih bingung dengar orang ngomong,” katanya sambil ketawa pelan.

Gue ikut ketawa juga. Dari situ, obrolan ngalir kayak kopi hitam yang mulai dingin pelan-pelan.

Baca Juga : Lupakan Diet! 5 Rasa Otentik Kuliner Khas Pontianak yang Dijamin Tak Akan Kamu Temui di Jakarta

Bahasa yang Tumbuh dari Tanah

bahasa kalimantan

Gue penasaran, Kalimantan menggunakan bahasa apa sih sebenarnya?
Bapak itu bilang, bahasa Kalimantan itu bukan cuma satu, tapi banyak banget. Ada bahasa Banjar, Dayak, Kutai, Bugis, bahkan Tidung di utara. Tiap daerah punya logat dan cerita sendiri. Bahasa Banjar misalnya, punya kata-kata lembut yang sering diselipin di obrolan sehari-hari.
“Kalau bilang terima kasih, kita sering ngomong ‘makasih pian’,” katanya. “Pian itu artinya kamu.”

Gue senyum. Bahasa mereka terasa akrab. Kayak sapaan yang datang dari hati, bukan sekadar kebiasaan.

Dia juga cerita, dulu bahasa-bahasa lokal ini cuma hidup di kampung, di ladang, di sungai. Tapi sekarang, mulai banyak anak muda yang ngelupain. “Mereka lebih sering pakai bahasa Jakarta,” ujarnya. “Padahal di sini, tiap kata punya aroma tanah sendiri.”

Baca Juga : Ketika Hutan Bercerita lewat Daun Sangga Kalimantan

Dari Kopi ke Kesadaran

kalimantan menggunakan bahasa apa - bahasa daerah

Beberapa anak muda di warung mulai nimbrung. Satu di antaranya, cewek berhijab dengan ransel besar, nyeletuk,
“Kalau aku sih, masih ngomong Banjar sama ibu di rumah. Tapi kalo di kampus, ya balik ke Indonesia formal.”
Gue tanya, “Kenapa?”
“Takut diketawain,” katanya sambil senyum canggung.

Dan entah kenapa, kalimat itu nyantol di kepala gue lama banget.
Takut diketawain karena pakai bahasa sendiri — bukankah itu ironi kecil yang menyedihkan?

Bahasa seharusnya bukan sesuatu yang bikin minder. Itu identitas. Itu cara kita ngenalin diri ke dunia. Tapi entah sejak kapan, banyak dari kita yang ngerasa bahasa daerah itu kampungan, bukan keren. Padahal, di balik tiap aksen bahasa Kalimantan, ada sejarah, ada ingatan, ada rumah.

Baca Juga : Malaysia Kalimantan – Satu Pulau, Tiga Wajah, Ribuan Cerita

Pulang Lewat Kata

pulang

Kopi gue udah habis, tapi obrolan masih berlanjut. Gue nyimak kata-kata mereka, nyoba ngikutin pelafalan. Kadang salah, dan mereka ketawa, tapi bukan ngetawain. Lebih kayak ngajarin.

“Kalau mau bilang ‘apa kabar’, bilang aja ‘apa kabar pian?’”
Gue ulangin pelan, “Apa kabar pian?”
“Bagus. Pian udah mirip urang sini,” kata bapak itu, senyum lebar.

Gue pulang sore itu dengan kepala penuh kata-kata baru — dan hati yang hangat.
Mungkin, cara paling sederhana buat ngerti Kalimantan bukan lewat peta, tapi lewat bahasa Kalimantan yang tumbuh di tiap warung kopi, di tiap sapa yang tulus dari bibir orang-orangnya.

Karena di balik setiap kata yang terdengar asing, selalu ada niat baik buat bikin kita ngerasa pulang.

Baca Juga : Flora dan Fauna di Kalimantan: Antara Surga Tropis dan Ancaman Senyap

Mau ngerasain hangatnya obrolan di warung-warung Kalimantan sendiri?
Yuk, rencanain perjalananmu ke Samarinda atau Pontianak.
Di sana, tiap sapa bisa jadi pelajaran baru tentang hidup dan bahasa.
Pesan tiket pesawat dengan harga terbaik hanya di Seindo Travel ^^

Loading

You Might Also Like

Leave a Reply