Bumi Putera dan Ekspedisi Kalimantan yang Tak Ada di Buku Panduan
Ekspedisi Kalimantan – Tidak semua perjalanan bisa ditulis dengan rapi dalam buku panduan. Ada yang cuma bisa dirasakan—seperti aroma tanah setelah hujan, atau suara hutan yang tiba-tiba hening di tengah siang.
Bumi Putera tahu itu. Ia tak lagi membawa daftar destinasi seperti turis, tapi catatan kosong yang ingin diisi oleh napas hutan dan percakapan manusia.
Menyusuri Sungai yang Tak Tercatat
Perahu kecilnya melaju pelan di sungai berair keruh, diapit akar pohon yang menua bersama waktu. “Orang kota sering lupa, sungai juga bisa bicara,” kata Pak Laing, pemandu lokal yang menemaninya.
Di sepanjang tepian, terlihat rumah-rumah panggung yang berdiri di atas air, anak-anak Dayak berenang tanpa rasa takut, dan perempuan menjemur rotan di bawah matahari yang tak kompromi.

“Ekspedisi ini bukan buat cari hewan langka, Pak,” ujar Bumi.
Pak Laing tertawa kecil. “Lalu apa yang sedang kamu cari, Nak?”
Bumi tak menjawab, hanya menatap dalam kedua mata Pak Laing.
Baca Juga : Belajar Bahasa Kalimantan di Warung Kopi
Catatan dari Tengah Hutan
Hujan datang tanpa peringatan.
Di dalam tenda yang seadanya, Bumi menulis:
“Kadang aku merasa Kalimantan bukan pulau, tapi cermin besar. Ia memperlihatkan siapa kita, tapi juga masih punya ruang untuk berbenah.”

Ia ingat berita tentang hutan yang ditebang atas nama pangan, tambang yang dibuka demi emas yang tak pernah cukup. Tapi ia juga melihat tangan-tangan kecil yang menanam bibit di tepian desa, tanpa sorotan kamera.
Ada semacam keseimbangan rapuh di sini. Antara harapan dan kenyataan, antara hijau yang tersisa dan abu yang mendekat.
Baca Juga : Lupakan Diet! 5 Rasa Otentik Kuliner Khas Pontianak yang Dijamin Tak Akan Kamu Temui di Jakarta
Orang-orang yang Tak Tercatat
Di desa terakhir yang ia singgahi, seorang nenek Dayak memberi Bumi kalung dari biji hutan.
“Biar kau ingat bau rumah,” katanya.
Nenek itu belum pernah baca berita, belum tahu apa itu food estate, tapi tahu bagaimana merawat tanah tanpa peta.

“Kalau hutan hilang, kita juga hilang. Tapi entah kenapa, orang kota baru sadar setelah terlambat.” ujar si nenek dengan mata berkaca-kaca.
Bumi hanya diam. Ada kalimat yang menempel di tenggorokan, tapi tak keluar. Barangkali karena tak ada bahasa yang cukup adil untuk menggambarkan kehilangan.
Baca Juga : Ketika Hutan Bercerita lewat Daun Sangga Kalimantan
Hutan, Catatan, dan Diam yang Menyimpan Cerita
Ketika perahu kembali menuju arah kota, Bumi menatap air yang memantulkan langit senja. Ia tahu ekspedisi Kalimantan ini tak akan pernah masuk majalah pariwisata.
Terlalu sunyi. Terlalu jujur.

Namun di dalam sunyi itu, ada satu hal yang ia temukan: bahwa Kalimantan tak butuh dikunjungi untuk dikagumi. Ia butuh dijaga, didengarkan, dan disyukuri.
“Mungkin inilah ekspedisi yang sesungguhnya,”
“Bukan tentang menemukan tempat baru, tapi mengingat apa yang hampir kita lupakan.”
tulisnya di akhir catatan.
Baca Juga : Malaysia Kalimantan – Satu Pulau, Tiga Wajah, Ribuan Cerita
Kalau suatu hari kau melakukan ekspedisi Kalimantan, jangan cuma bawa kamera.
Bawalah rasa ingin tahu, dan sedikit keheningan. Karena di sini, yang bicara bukan hanya manusia—tapi bumi yang pelan-pelan minta didengar.
![]()

Leave a Reply