Desa Budaya Pampang: Bertemu Generasi Terakhir Telinga Panjang
Hujan Januari di Samarinda turun tanpa permisi. Udara terasa dingin, tapi ku harap ada kehangatan lain hari ini.
Aku memacu motor membelah jalanan basah menuju arah bandara. Bukan untuk pulang, melainkan untuk singgah ke sebuah rumah besar yang konon menyimpan detak jantung Kalimantan yang paling purba: Desa Budaya Pampang.
Setiap hari Minggu, desa ini membuka pintunya. Dan di sanalah aku bertemu mereka. Perempuan-perempuan tangguh yang memanggul sejarah di telinga mereka.
Senyum di Bawah Lamin Adat
Melangkah masuk ke Lamin Adat Pemung Tawai, telingaku langsung dimanjakan oleh petikan Sape’ yang mendayu-dayu. Rasanya magis. Ratusan orang duduk lesehan, terpukau oleh tarian Burung Enggang yang agung.
Tapi, mataku terkunci pada satu sudut.

Di sana, duduk para Hudoq (tetua) perempuan Suku Dayak Kenyah. Wajah mereka tenang, dihiasi guratan usia yang justru memancarkan wibawa. Dan tentu saja, telinga itu. Daun telinga yang memanjang hingga menyentuh bahu, ditarik oleh pemberat berupa anting-anting logam berwarna perak.
Aku mendekat pelan, takut mengganggu. Tapi salah satu nenek menoleh dan tersenyum padaku. Senyum yang tulus, seolah menyambut cucunya sendiri pulang ke rumah.
Baca Juga : Pendulangan Intan Cempaka: Mencari Kilau di Antara Lumpur dan Keringat
Cantik itu Menyakitkan? Tidak, Cantik itu Sabar
“Berat ya, Nek?” tanyaku lirih sambil menunjuk anting-antingnya.
Nenek itu tertawa kecil, menggeleng pelan. Baginya, rasa berat itu sudah lebur bersama waktu.
Sebagai perempuan modern yang terbiasa dengan standar kecantikan instan, aku tertampar. Di Desa Budaya Pampang ini, aku belajar definisi cantik yang berbeda. Bagi wanita Dayak Kenyah zaman dulu, telinga panjang adalah simbol kesabaran. Simbol strata sosial. Simbol dedikasi.

Mereka merawat tradisi ini sejak bayi. Menambah pemberat sedikit demi sedikit, tahun demi tahun. Itu bukan sekadar perhiasan, itu adalah bukti ketangguhan seorang wanita.
Aku melihat tangan mereka yang penuh tato tradisional. Bagiku, mereka adalah galeri seni yang bernapas. Indah, rumit, dan penuh cerita.
Baca Juga : Tanjung Puting, Hujan Desember, dan Tatapan Orangutan Kalimantan
Merekam Wajah Terakhir
Namun, ada rasa nyeri yang menyelinap di dada saat aku memandang mereka lebih lama.
Aku sadar, mereka adalah generasi terakhir. Anak-anak muda Dayak di desa ini, yang menari dengan lincah di panggung tadi, telinganya sudah seperti aku. Normal. Tidak ada lagi yang meneruskan tradisi telinga panjang.

Para nenek ini adalah The Last Guardians. Penjaga terakhir. Ketika mereka tiada nanti, tradisi telinga panjang ini akan benar-benar hilang dari wajah bumi, hanya tersisa di foto-foto museum atau buku sejarah.
Baca Juga : Bamboo Rafting, Hujan Desember, dan Cara Berdamai dengan Arus
Epilog: Jangan Cuma Lewat
Pertunjukan usai. Hujan di luar Lamin Adat makin deras.
Aku pulang membawa hati yang penuh. Kunjunganku ke Desa Budaya Pampang hari ini bukan sekadar wisata. Ini adalah ziarah memori.

Teman-teman, jika kalian punya kesempatan ke Samarinda, luangkanlah satu hari Minggu untuk ke sini. Jangan cuma sibuk selfie. Duduklah di samping mereka. Tatap mata mereka. Rasakan aura ketangguhan yang mereka pancarkan.
Karena waktu tidak bisa diputar ulang. Temui mereka, selagi mereka masih ada untuk tersenyum padamu.
Baca Juga : Tahun Baru 2026 Tak Harus Hura-Hura: Catatan Kecil di Tepian Kalimantan
Catatan Kecil Kirana:
Sedikit tips buat kamu: Pertunjukan budaya di Pampang cuma ada tiap hari Minggu, jam 14.00 siang. Datanglah lebih awal biar bisa dapat duduk paling depan dan ngobrol sama nenek-neneknya sebelum ramai.
Dan karena lokasinya agak jauh dari pusat kota, pastikan kamu istirahat di tempat yang nyaman. Kalau butuh rekomendasi penginapan yang homey di Samarinda, coba cek di Seindo Travel.
With love, Kirana.
Baca Juga : Di Balik Megahnya Titik Nol: Menjelajahi Wajah Asli Wisata Penajam Paser Utara yang Mulai Berubah
![]()

Leave a Reply