Pendulangan Intan Cempaka: Mencari Kilau di Antara Lumpur dan Keringat
Pendulangan Intan Cempaka – Orang bilang, berlian adalah sahabat terbaik wanita. Lambang kemewahan, keabadian, dan status sosial. Tapi di sini, di Kelurahan Cempaka, Banjarbaru, berlian punya arti yang jauh lebih harfiah: Nasi.
Bumi Putera berdiri di pinggir lubang galian raksasa. Matahari Kalimantan sedang terik-teriknya, memanggang kulit tanpa ampun. Di bawah sana, puluhan laki-laki bertelanjang dada berendam di dalam air keruh yang cokelat pekat.
Mereka bukan sedang mandi. Mereka sedang bertaruh nasib.
Inilah Pendulangan Intan Cempaka, salah satu tambang intan tradisional tertua di Indonesia yang masih bertahan. Di sinilah intan legendaris “Trisakti” seberat 166 karat pernah ditemukan. Dan mimpi tentang Trisakti itulah yang membuat orang-orang ini tetap menggali, hari demi hari.
Tarian Linggangan
Bumi Putera menuruni jalan setapak yang licin menuju dasar lubang. Suara mesin pompa air menderu-deru, menyedot pasir dari kedalaman tanah.
Ia mendekati seorang bapak tua yang sedang memegang linggangan (alat dulang berbentuk kerucut dari kayu). Gerakannya ritmis, memutar-mutar pasir bercampur air dengan sabar. Matanya tajam menatap ke dasar dulang, mencari setitik kilau di antara tumpukan kerikil hitam.

“Sudah dapat, Pak?” tanya Bumi Putera.
Bapak itu mendongak, menyeka keringat yang bercampur lumpur di dahinya. “Belum rezeki hari ini, Mas. Kemarin cuma dapat pasir emas sedikit.”
Bumi Putera terdiam. Di kota, orang bekerja dengan kepastian gaji bulanan. Di Pendulangan Intan Cempaka, orang bekerja dengan “ketidakpastian”. Mereka bisa saja pulang dengan tangan kosong selama sebulan, atau mendadak jadi jutawan dalam satu jam jika mata cangkul mereka membentur batu yang tepat.
Baca Juga : Tanjung Puting, Hujan Desember, dan Tatapan Orangutan Kalimantan
Filosofi Lumpur
Melihat prosesnya, logika Bumi Putera tersentil. Untuk mendapatkan sesuatu yang paling bening dan berkilau di dunia (intan), manusia harus rela berkubang di tempat yang paling kotor dan keruh (lumpur).
Tidak ada jalan pintas. Tidak ada mesin canggih yang menggantikan insting manusia di sini.

Para pendulang ini bekerja secara berkelompok. Satu orang menyelam memegang selang, yang lain mengangkut pasir, yang lain mendulang. Rasa persaudaraan mereka kuat. Kalau satu kelompok dapat intan besar, kabarnya akan menyebar secepat kilat, memicu semangat (dan rasa iri yang manusiawi) kelompok lain untuk menggali lebih dalam.
Di tengah wisata Banjarbaru yang mulai modern dengan kafe-kafe kekinian, tempat ini adalah monumen kerja keras yang masih berdenyut.
Baca Juga : Bamboo Rafting, Hujan Desember, dan Cara Berdamai dengan Arus
Epilog: Kilau yang Sebenarnya
Sore menjelang, para pendulang mulai naik dari lubang galian. Tubuh mereka cokelat terbalut lumpur yang mulai mengering. Wajah mereka lelah, tapi mata mereka tetap menyala. Besok, mereka akan kembali lagi. Menggali lagi. Berharap lagi.

Bumi Putera meninggalkan Cempaka dengan sepatu yang penuh tanah liat.
Ia tidak membawa pulang intan. Tapi ia membawa pulang pelajaran berharga: Bahwa kilau yang sesungguhnya bukanlah batu yang dipajang di etalase toko perhiasan. Kilau yang sesungguhnya ada pada ketangguhan manusia yang tak pernah menyerah pada nasib, meski harus mencarinya di dasar lumpur sekalipun.
Baca Juga : Tahun Baru 2026 Tak Harus Hura-Hura: Catatan Kecil di Tepian Kalimantan
Ingin Melihat Sisi Lain Kalimantan?
Jika Anda bosan dengan wisata yang “cantik-cantik” saja, cobalah datang ke Cempaka. Jaraknya hanya sekitar 45 menit dari Banjarmasin atau 15 menit dari pusat Banjarbaru. Saksikan sendiri bagaimana batu mulia di jari manis Anda itu ditemukan.
Agar perjalanan napak tilas sejarah pertambangan ini nyaman, pastikan Anda punya tempat istirahat yang sejuk untuk membersihkan diri dari debu Cempaka. Cek rekomendasi hotel terbaik di Banjarbaru dan Banjarmasin melalui Seindo Travel.
Istirahat yang cukup itu penting, siapa tahu besok giliran Anda yang menemukan “Trisakti” berikutnya?
Selamat menggali makna.
Baca Juga : Di Balik Megahnya Titik Nol: Menjelajahi Wajah Asli Wisata Penajam Paser Utara yang Mulai Berubah
![]()

Leave a Reply