Gunung Bondang: Mencari Jawaban Eksistensi di Puncak Keramat Murung Raya

gunung bondang

Bagi sebagian orang, batuan itu cuma benda mati. Tapi bagi aku, Jack Co Vie, batuan adalah arsip waktu yang punya cerita sendiri. Dan Gunung Bondang, bongkahan batuan yang berhasil membakar rasa ingin tahuku dengan segenap kisahnya.

Aku biasa di panggil Jack, kadang juga Om Jack. Sebagai seorang geoscientist, hari-hariku biasanya habis buat membedah struktur bumi. Tapi di usia yang sudah menyentuh kepala tiga ini, aku mulai sadar kalau ada data yang nggak bisa dibaca cuma lewat sensor atau pemetaan satelit. Ada frekuensi alam yang cuma bisa dirasakan kalau kita hadir langsung di titiknya. Dan aku tidak akan tinggal diam.

Langkah kaki membawaku jauh ke pedalaman Kalimantan Tengah, tepatnya di Kabupaten Murung Raya. Seperti ucapku di awal, targetku adalah Gunung Bondang, sebuah puncak yang secara geologis sangat menantang, tapi secara spiritual sangat dihormati oleh masyarakat Dayak di sana.

Antara Logika Sains dan Kabut Mistis

Tinggiku yang hampir 190 cm dan fisik yang masih bugar karena rutinitas lapangan, biasanya bikin aku pede banget melahap medan vertikal. Tapi, Gunung Bondang Murung Raya ini kasih atmosfer yang beda sejak awal.

Gunung Bondang Murung Raya

Begitu mulai mendaki, kabut tebal seolah jadi tirai yang memisahkan dunia luar dengan area keramat ini. Secara ilmiah, aku tahu ini fenomena orografis biasa. Tapi, melihat rimbunnya hutan lumut dan pohon-pohon purba di sini, aku paham kenapa masyarakat lokal begitu menjaganya.

Gunung ini bukan sekadar tumpukan material geologi. Bagi suku Dayak, Bondang adalah tempat persemayaman roh. Sebelum mendaki, aku harus mengikuti ritual adat dulu—sebuah bentuk penghormatan yang sangat aku hargai sebagai orang yang tumbuh dengan dua budaya berbeda (Belanda-Indo).

Baca Juga : Wisata Pulau Maratua: Belajar Arti “Rumah” dari Suku Bajau Kalimantan

Observasi dari Ketinggian

Pas aku berdiri di salah satu titik terbuka, aku menatap hamparan hutan Kalimantan yang seolah nggak ada ujungnya. Mataku yang berwarna kecokelatan—warisan dari darah Belanda Ayahku—menangkap kontras warna hijau yang sangat dalam. Indah banget.

ekosistem alam kalimantan tengah

Di sini, aku nggak cuma melihat formasi batuan atau potensi sumber daya. Aku melihat sebuah ekosistem yang bertahan justru karena “ketakutan” yang sehat dari manusia. Di kota, kita sering merusak alam karena merasa paling berkuasa. Tapi di Bondang, manusia tetap rendah hati karena ada rasa segan terhadap hal-hal yang nggak kasat mata.

Sebagai ilmuwan, aku sering mencari bukti. Tapi di puncak ini, buktinya adalah ketenangan yang aku rasakan sendiri. Logikaku berkata ini hasil dari kadar oksigen yang murni, tapi sisi “Indo”-ku merasa ini adalah restu dari sang penjaga gunung.

Baca Juga : Wisata Bukit Kelam Sintang: Di sini Gue Merasa Kecil Namun Melegakan

Sains Membutuhkan Rasa

Studi lapangan kali ini kasih catatan penting di jurnal hidupku. Wisata Kalimantan Tengah bukan cuma tentang petualangan fisik, tapi tentang menyelaraskan kembali logika manusia dengan kebijakan alam.

Wisata Kalimantan Tengah

Di usia 30 ini, aku makin sadar kalau jadi ahli bumi bukan berarti kita harus menguasainya. Jadi ahli bumi berarti kita harus belajar untuk mendengarkan bicaranya—baik lewat struktur batuannya, maupun lewat keheningan puncaknya.

Baca Juga : Desa Budaya Pampang: Bertemu Generasi Terakhir Telinga Panjang

Catatan Lapangan Jack

Mendaki Gunung Bondang butuh izin yang ketat dan pemandu lokal yang paham adat. Jangan pernah meremehkan jalur atau aturan adat di sini ya. Fisik harus benar-benar prima, karena meskipun aku terbiasa di lapangan, kelembapan hutan Kalimantan tetap punya tantangan tersendiri yang bisa bikin nafas pendek.

Kalau kalian tertarik melakukan perjalanan serupa dan butuh akomodasi atau transportasi dari Puruk Cahu, pastikan semuanya terencana dengan matang. Cek opsi perjalanan dan tips keamanan di pedalaman Murung Raya lewat Seindo Travel.

Sampai jumpa di observasi geologi aku berikutnya.

Baca Juga : Pendulangan Intan Cempaka: Mencari Kilau di Antara Lumpur dan Keringat

Loading

You Might Also Like

Leave a Reply