Lilin di Tengah Ladang – Catatan dari Dusun Tanpa Listrik
Malam datang lebih cepat di dusun itu. Bukan karena rotasi bumi lebih laju, tapi karena tak ada lampu yang menunda gelap. Tak ada cahaya yang memantul dari kabel, tak ada sinar dari tiang listrik, tak ada suara kipas atau deru TV. Yang ada hanyalah suara jangkrik, detak waktu, dan percikan api dari sumbu lilin yang menguning perlahan di sebuah dusun tanpa listrik.
Dusun itu tidak ada di ujung dunia. Ia ada di negeri ini. Di satu sudut Kalimantan yang tak tercatat dalam brosur pariwisata, tak dikenal pejabat kota, dan tak disebut dalam pidato-pidato pembangunan.
Dusun Tanpa Kabel – Hidup yang terus Menyala Walau Tanpa Sumber Daya

Namanya Dusun Tanjung Soke. Terletak pada bagian tenggara kecamatan Bongan, +/- 42 Km dari ibu kota kecamatan, +/- 180 Km dari Ibukota Kabupaten Kutai Barat dan +/115 Km dari Ibukota Propinsi Kalimantan Timur. Kampung Tanjung Soke memiliki luas wilayah seluas 24.588,21 Ha, dan hanya terdiri dari 1 RT. Tidak ada sinyal telepon, apalagi listrik. Penduduknya sekitar 70 kepala keluarga, hidup dari berkebun, memancing, dan hasil hutan yang mereka jaga lebih baik dari pemerintah mana pun.
Setiap malam di dusun tanpa listrik ini, mereka menyalakan pelita atau lilin. Sebagian memakai genset kecil yang cuma bisa dinyalakan satu atau dua jam—itu pun hanya pada malam-malam tertentu. Anak-anak belajar di bawah cahaya remang, ibu memasak dengan senter kecil yang baterainya cepat habis, dan bayi-bayi tidur dalam kehangatan peluh karena tak ada kipas yang berputar.
Ironisnya, mereka tak asing dengan kata “pembangunan”. Di TV yang kadang mereka lihat saat pergi ke kota, ada gambar-gambar gedung megah, jalan tol, dan kampanye listrik masuk desa. Tapi semua itu hanya gambar. Di sini, malam tetap milik gelap.
Baca Juga : Sungai Mahakam x Suku Dayak: Kisah Yang Tak Pernah Luntur
Catatan Seorang Guru: “Anak-anak di Sini Takut Gelap, Tapi Lebih Takut Gagal Sekolah”

Pak Leman, seorang guru honorer yang sudah tinggal sepuluh tahun di dusun itu, bercerita lirih, “Kadang saya kasihan sama murid-murid. Mereka mau belajar, tapi malam-malam cuma bisa baca buku satu halaman, lalu mata perih karena asap lilin.”
Ia sendiri mengajar tanpa papan tulis permanen. Ia mengajar dari buku-buku bekas, dibeli dari kota dengan ongkos perahu yang mahal. “Kalau listrik masuk, kami bisa punya printer. Bisa bikin soal lebih banyak. Tapi ya… sampai sekarang cuma jadi wacana.”
Beberapa tahun lalu, katanya, pernah ada rombongan pejabat yang datang. Bawa janji, bawa kamera, bawa program. Tapi setelah itu, hilang bagai kabut pagi yang tak pernah kembali ke dusun tanpa listrik ini.
Baca Juga : Main ke Pulau Kakaban, Kayak Nyasar ke Dunia Avatar!
Pajak Dibayar, Listrik Tak Datang – Ada yang Tertinggal Dalam Peta

Yang bikin miris, warga dusun ini tetap taat. Mereka membayar pajak tanah, membayar pungutan daerah, bahkan iuran untuk bantuan desa. Tapi saat ditanya kenapa listrik belum masuk desa, jawabannya selalu digantung: “Masih dikaji.” “Butuh waktu.” “Belum prioritas.”
Apa artinya “prioritas”, jika terang tidak dirasakan merata? Apa arti pembangunan, kalau hanya berhenti di kota dan tidak sampai ke ladang?
Ada dusun-dusun lain seperti ini di Kalimantan, Papua, NTT, dan Sulawesi. Nama-namanya asing di telinga pejabat, tapi mereka tetap bagian dari republik ini. Mereka bukan bayangan, mereka nyata. Mereka menunggu bukan belas kasihan, tapi hak yang seharusnya sampai sejak lama.
Baca Juga : Bukit Matang Kaladan: Raja Ampat di Kalimantan Selatan
Sajak dari Gelap

Di tengah ladang, kami menyalakan lilin
Bukan untuk romantisme, tapi untuk bertahan
Gelap bukan musuh, tapi kami ingin tahu terang
Karena anak-anak kami punya mimpi yang butuh cahaya
Baca Juga : Villa Sunset: Hunian Nyaman Berlanskap Pantai Teluk Tamiang
Cahaya yang Ditunda – Lalu Siapa yang Bertanggung Jawab?

Pertanyaan ini menggantung. Apakah PLN? Pemerintah daerah? Atau kita semua yang sibuk bicara tentang “smart city” dan “energi hijau” tapi lupa bahwa di hulu sungai sana, masih ada ibu-ibu yang menanak nasi dalam gelap?
Negara ini besar. Tapi seharusnya bukan hanya besar di ukuran. Ia harus juga besar dalam merangkul. Dalam mendengar. Dalam menyentuh desa-desa yang tak punya mikrofon, tapi punya suara.
Baca Juga : Taman Nasional Tanjung Puting di Kalimantan, Cek Yuk!!!
Dusun Tanjung Soke mungkin tak akan masuk trending topic. Tapi cerita mereka adalah cermin dari luka yang kita diamkan terlalu lama. Dan mungkin, malam ini—di antara lilin dan ladang—ada satu anak kecil yang berharap suatu hari nanti, ia bisa menyalakan lampu dari saklar, bukan dari korek api.
![]()

Air, Asin, dan Asam – Kehidupan di Delta Mahakam - Eksotik Kalimantan
[…] Baca Juga : Lilin di Tengah Ladang – Catatan dari Dusun Tanpa Listrik […]
Suara Para Penjaga Hutan Adat Kalimantan yang Tak Didengar - Eksotik Kalimantan
[…] Baca Juga : Lilin di Tengah Ladang – Catatan dari Dusun Tanpa Listrik […]
Perempuan Penjaga Hutan – Suara Sunyi dari Pinggir Rimba - Eksotik Kalimantan
[…] suara-suara itu mulai muncul, pelan-pelan. Melalui dokumentasi warga, film pendek, hingga gerakan akar rumput, cerita mereka mulai sampai ke telinga publik. Tapi jalan […]