Suara Para Penjaga Hutan Adat Kalimantan yang Tak Didengar

penjaga hutan adat kalimantan

Di Kalimantan, suara hutan terdengar paling nyaring saat dunia tak mau mendengar. Bukan suara ranting yang patah atau daun yang jatuh. Tapi suara manusia—lembut, penuh sabar, dan bertahun-tahun dipinggirkan. Merekalah penjaga hutan adat Kalimantan. Mereka bukan aktivis berseragam, bukan aparat bersenjata. Mereka hanyalah warga adat, petani kecil, penjaga batas kampung—yang tahu, sejak lahir, bahwa hutan bukan sekadar pohon, tapi kehidupan itu sendiri.

Di balik rimba yang dulu dianggap “tak terjamah”, sebenarnya ada tangan-tangan yang setiap hari menjaga. Bukan demi slogan, bukan demi pujian, tapi demi tanah yang diwariskan, air yang mereka minum, dan langit yang mereka hormati.

Menjaga dengan Cara yang Tak Pernah Tercatat

kawasan hutan adat kalimantan - sungat utik

kawasan hutan adat di Sungai Utik

Di Desa Sungai Utik, Kalimantan Barat, masyarakat Dayak Iban menjaga hutan adat mereka seluas ribuan hektare. Mereka punya aturan ketat tentang pohon mana yang boleh ditebang, air mana yang tak boleh dicemari, dan binatang mana yang harus dibiarkan hidup. Semua diwariskan lewat tutur, bukan dokumen negara.

Pak Luhat, seorang tetua adat, pernah berkata dalam satu wawancara, “Kami tidak jaga hutan karena ada proyek. Kami jaga karena kalau hutan hilang, kami ikut hilang.”

Namun meski puluhan tahun menjaga, sering kali mereka diposisikan seolah penghalang kemajuan. Ketika investor datang membawa izin, membawa peta yang tidak mereka kenali, tiba-tiba tanah yang mereka jaga seumur hidup disebut “tidak punya status legal”.

Mereka berdiri di perbatasan antara keyakinan leluhur dan kepentingan modern yang menyamar sebagai pembangunan. Dan tak jarang, mereka kalah.

Baca Juga : Air, Asin, dan Asam – Kehidupan di Delta Mahakam

Proyek, Pengkhianatan, dan Janji yang Menjadi Asap

deforestasi di kalimantan indonesia

deforestasi hutan kalimantan

Ada banyak cerita pengkhianatan di Kalimantan. Cerita masyarakat adat Kalimantan yang menolak konsesi, lalu dibujuk dengan janji jalan, listrik, dan pekerjaan. Sebagian tergoda. Sebagian bertahan. Tapi ketika mesin-mesin masuk, mereka sadar: hutan lebih cepat hilang dari janji yang pernah dilontarkan.

Di Kalimantan Timur, sebuah kampung adat di pinggir hutan pernah menolak proyek tambang. Mereka bertahan selama empat tahun. Hingga satu hari, beberapa tokoh desa dibujuk secara diam-diam. Disodori kontrak yang hanya mereka pahami setengahnya.

Hutan ditebang. Sungai keruh. Tanah pecah saat musim kemarau, dan licin seperti sabun saat hujan. Satu generasi kehilangan masa depan. Dan suara mereka, yang sempat menggelegar, berubah jadi bisikan pahit: “Kami dibohongi.”

Ada suara yang tak bisa direkam kamera,
karena ia tinggal di dada orang-orang yang tak percaya lagi pada janji.

Baca Juga : Lilin di Tengah Ladang – Catatan dari Dusun Tanpa Listrik

Hening yang Sebenarnya Teriak

pembakaran hutan

“Kalau hutan habis, kami masih hidup. Tapi tidak utuh.”

Orang-orang di luar Kalimantan kadang hanya lihat “angka” kehilangan hutan. Tapi bagi warga lokal, kehilangan itu punya bentuk. Sumber air yang mengering. Burung yang tak lagi singgah. Anak-anak yang batuk karena debu tambang. Ritual yang tak bisa dijalankan karena hutan keramat sudah digusur.

Mereka tidak protes dengan spanduk besar. Mereka tidak trending di media sosial. Tapi mereka hidup dalam luka yang pelan-pelan menggerus. Dalam sunyi yang sebenarnya sedang berteriak.

Seorang ibu di pinggiran Sintang pernah bilang, “Kalau hutan habis, kami masih hidup. Tapi tidak utuh.”

Baca Juga : Sungai Mahakam x Suku Dayak: Kisah Yang Tak Pernah Luntur

Penjaga Tanpa Panggung

suku dayak penjaga hutan adat kalimantan penunggu gua terakhir

suku dayak penunggu gua terakhir

Ironisnya, mereka yang paling berjasa menjaga bumi, justru yang paling jarang diberi panggung. Nama mereka tak tercatat dalam laporan korporat. Wajah mereka tak masuk iklan CSR. Tapi mereka tetap menanam, tetap menjaga batas hutan adat Kalimantan, tetap menegur siapa saja yang membakar sembarangan.

Bagi para penjaga hutan adat Kalimantan, menjaga bukan profesi. Itu warisan. Tugas moral. Dan bentuk cinta yang tidak perlu disorot.

Kami tidak ingin dikenal dunia,
kami hanya ingin anak cucu masih bisa dengar suara burung tiap pagi.

Baca Juga : Villa Sunset: Hunian Nyaman Berlanskap Pantai Teluk Tamiang

Jangan Tunggu Mereka Diam Selamanya

orang dayak - penjaga hutan adat kalimantan yang tak lagi di dengar

penjaga hutan adat kalimantan yang tak di dengar

Suara para penjaga hutan itu masih ada. Tapi semakin lirih. Bukan karena mereka berhenti berbicara, tapi karena dunia tak lagi menoleh ke arah mereka. Hutan yang mereka jaga kini menjadi rebutan, dan kadang justru dilindungi dengan logika yang tak mereka pahami.

Namun jika mereka benar-benar diam nanti, yang hilang bukan hanya hutan, tapi juga kebijaksanaan yang tumbuh dari tanah. Dan ketika itu terjadi, bukan hanya Kalimantan yang rugi—tapi kita semua.

Loading

You Might Also Like

4 Comments

  1. Lintas Borneo – Perjalanan Darat Panjang di Negeri Seribu Hutan - Eksotik Kalimantan

    […] Baca Juga : Suara Para Penjaga Hutan Adat Kalimantan yang Tak Didengar […]

  2. Satu Hari di Pantai Melasti yang Tersembunyi

    […] di sini kamu bisa beneran disconnect. Gak ada yang maksa kamu buat “harus ini itu”. Mau selonjoran sejam dua jam? Boleh. Mau […]

  3. Sebuah Lanskap di Antara Bukit Cinta dan Gunung Agung - Destinasi Bali

    […] tak dikenal banyak orang. Tapi justru di sanalah letak nilai sejatinya. Ia seperti surat lama yang nyaris dilupakan, tapi saat dibuka kembali, isinya menghangatkan hati. Tempat ini bukan tentang apa yang bisa […]

  4. Goa Batu Hapu - Tapak Purba di Tengah Alam Hulu Sungai - Eksotik Kalimantan

    […] Baca Juga : Suara Para Penjaga Hutan Adat Kalimantan yang Tak Didengar […]

Leave a Reply