Air, Asin, dan Asam – Kehidupan di Delta Mahakam

delta mahakam

Ada tempat di mana sungai tak lagi jernih tapi juga belum sepenuhnya asin. Di antara arus yang lambat dan kabut pagi yang turun pelan, Delta Mahakam menyimpan sebuah dunia yang tak pernah riuh, tapi juga tak pernah benar-benar diam.

Delta ini bukan cuma cabang-cabang air yang menyebar seperti urat di telapak tangan bumi Kalimantan Timur. Ia adalah denyut kehidupan. Ia rumah bagi para nelayan, petani tambak, pencari kayu, dan orang-orang yang sejak kecil diajari untuk membaca cuaca dari arah angin dan warna langit.

Di sini, air bukan cuma air. Ia asin saat laut masuk terlalu jauh, ia asam saat tanah gambut dari hulu datang membawa sisa-sisa. Dan setiap rasa itu menyimpan cerita. Cerita tentang bertahan, tentang kehilangan, dan tentang hubungan manusia dengan alam yang tak pernah benar-benar sederhana.

Mereka yang Hidup di Antara Pasang dan Surut

kehidupan masyarakat delta

Pak Daeng, 63 tahun, duduk di tepi perahunya sambil mengikat jaring yang sobek. “Dulu,” katanya pelan, “ikan datang sendiri. Sekarang, kita yang harus datang ke tempat ikan.”

Ia tinggal di Muara Enggelam, sebuah kampung kecil di tengah delta yang hanya bisa diakses lewat sungai. Rumah panggung kayu berdiri berjajar menghadap air, tanpa jalan darat, tanpa kendaraan bermotor. Semua pergerakan di sini bergantung pada perahu dan irama pasang surut.

Anak-anak ke sekolah naik ces (perahu mesin kecil). Orang tua ke pasar naik perahu. Bahkan jenazah pun diantar lewat sungai, seolah semua perjalanan hidup—datang, tumbuh, pulang—memang harus menyentuh air.

Pak Daeng bercerita bahwa tambak udang dan bandeng sekarang menggantikan hutan mangrove yang dulu jadi tempat bermain waktu kecil. “Kalau air jadi terlalu asin, bandeng mati. Kalau terlalu asam, udang tak mau besar. Kita mesti pintar-pintar jaga kadar air.”

Tidak mudah hidup di delta. Tapi yang lebih sulit adalah menerima kenyataan bahwa mereka yang tinggal di sini jarang didengar. Ketika pabrik besar datang membangun pelabuhan dan jalur kapal besar, sungai mereka menyempit, dan arus berubah. Ikan menjauh, lumpur mengendap, dan air yang dulu bersih kini membawa sisa limbah tak bernama.

Baca Juga : Lilin di Tengah Ladang – Catatan dari Dusun Tanpa Listrik

Delta yang Retak, Tapi Masih Mengalir

pengeboran minyak oleh PT. pertamina di delta mahakam

Delta Mahakam bukan sekadar lanskap. Ia adalah tubuh hidup yang bernapas. Tapi tubuh itu kini kelelahan. Banyak kanal buatan dibor untuk kepentingan industri. Banyak tambak dibuat tanpa memperhitungkan ekologi. Hutan mangrove ditebang, tanah ditekan, dan air dipaksa mengalir ke arah yang tidak ia kehendaki.

Masyarakat lokal paham benar bahwa mereka butuh makan. Mereka tidak menolak pembangunan. Tapi mereka ingin dihormati—sebagai penjaga pertama dari ekosistem yang lebih tua dari semua proyek reklamasi.

Air yang kami minum, air yang kami jaga,
Jangan dikotori oleh mereka yang datang hanya untuk angka.

Baca Juga : Sungai Mahakam x Suku Dayak: Kisah Yang Tak Pernah Luntur

Antara Tradisi dan Tantangan Baru

delta mahakam - nadi kehidupan

Delta Mahakam punya banyak cerita. Tentang tradisi nelayan, tentang tarian air dan perahu, tentang lagu-lagu yang dinyanyikan saat senja turun dan malam begitu gelap, lampu-lampu kecil mulai menyala di atas air. Tapi semua itu perlahan bergeser.

Anak-anak muda mulai pergi ke kota. Sawah mulai diganti tambak. Bahasa lokal perlahan menghilang dari bibir anak-anak sekolah. Modernitas datang pelan-pelan, membawa kemudahan tapi juga pelupaan.

Masih ada yang bertahan. Mengajarkan cara membaca bintang di langit untuk menentukan waktu tanam. Masih ada yang menggambar peta arus delta di benak mereka seperti warisan yang tak tertulis. Tapi waktu terus berjalan, dan tanpa perlindungan yang nyata, identitas pelan-pelan larut di antara air yang berubah rasa.

Baca Juga : Main ke Pulau Kakaban, Kayak Nyasar ke Dunia Avatar!

Catatan dari Muara

Kalimantan Timur dikenal karena tambang dan minyak. Tapi ada sisi lain yang lebih sunyi—lebih dalam—yang tinggal di delta ini. Di mana anak-anak belajar berenang sebelum bisa mengeja. Di mana pagi datang bersamaan dengan bau lumpur, suara dayung, dan embun di atas dedaunan mangrove.

Mereka tidak butuh banyak. Hanya ingin hidup selaras dengan alam yang sudah lebih dulu hidup dari mereka. Tapi jika air mereka terus diatur oleh proyek, jika tanah mereka terus ditekan oleh beban industri, dan jika suara mereka tak pernah masuk berita, maka delta ini akan diam-diam mati. Dan kita takkan sadar sampai airnya tak lagi bisa diminum, ikannya tak lagi bisa ditangkap, dan cerita-cerita itu tinggal jadi catatan kaki.


Ingin mengunjungi Delta Mahakam di Kalimantan Timur untuk melihat lebih dalam kondisi di sana? Temukan tiket pesawat murah dan promo menarik lainnya hanya di Seindo Travel.

Loading

You Might Also Like

3 Comments

  1. Suara Para Penjaga Hutan Adat Kalimantan yang Tak Didengar - Eksotik Kalimantan

    […] Baca Juga : Air, Asin, dan Asam – Kehidupan di Delta Mahakam […]

  2. Goa Gajah Bali – Selembar Kisah Kuno dalam Sejarah di Gianyar

    […] bawah kompleks ini mengalir Sungai Petanu, sungai yang kerap disebut dalam kisah-kisah kuna Bali. Sungai ini pula yang membuat lokasi ini begitu […]

Leave a Reply