Perempuan Penjaga Hutan – Suara Sunyi dari Pinggir Rimba
Di balik bayang lebat hutan Kalimantan, tempat kabut pagi menggantung di antara pucuk-pucuk pohon dan suara alam menyatu dalam sunyi yang utuh, hidup para perempuan yang menjaga rimba dengan caranya sendiri. Mereka tak mengangkat senjata atau bicara lantang di forum-forum besar. Tapi tangan mereka menenun waktu, menganyam akar, dan merawat daun-daun yang dipercaya bisa menyembuhkan. Mereka adalah suara sunyi dari pinggir rimba—perempuan penjaga hutan yang jarang dilihat, apalagi didengar.
Kisah Di Pinggir Hutan

Di sebuah dusun di tepian Sungai Kelay, Kalimantan Timur, tinggal Bu Lestari, perempuan paruh baya yang setiap pagi masuk hutan untuk mencari daun akar kuning, kayu bajakah, dan rotan muda. Ia bukan sekadar pengumpul hasil hutan, tapi pewaris pengetahuan turun-temurun tentang tanaman obat yang telah lama digunakan oleh leluhurnya.
“Orang dulu kalau sakit, cari daun, bukan cari obat di toko,” katanya suatu hari. Tangan tuanya membelai lembut anyaman tas dari rotan, hasil karyanya sendiri yang ia jual ke pasar lokal. Tapi tak sekadar berdagang, baginya itu cara agar hutan tetap hidup. “Kalau kita jaga rotan, kita jaga hutan.”
Kisah Bu Lestari bukan satu-satunya perempuan penjaga hutan. Di daerah Malinau, Kalimantan Utara, komunitas perempuan Dayak Kenyah membentuk kelompok tenun hutan. Mereka mengolah pewarna alami dari kulit kayu, akar, dan buah hutan, lalu menenunnya menjadi kain yang bercerita. Setiap motif bukan hanya indah, tapi menyimpan simbol alam: burung enggang, akar kehidupan, aliran sungai.
Baca Juga : Malinau dan Malam yang Tak Dikenal
Menjaga dengan Karya, Merawat Lewat Doa

Perempuan penjaga hutan bukanlah aktivis dalam definisi modern. Tapi keberadaan mereka adalah bentuk konservasi yang paling tulus: menjaga tanpa pamrih, merawat tanpa sorotan. Mereka tak menyebut dirinya pelestari lingkungan, tapi tindakan mereka menjaga keseimbangan ekosistem—dengan menanam kembali pohon yang ditebang, memanen dengan bijak, dan menolak memberi jalan pada perusahaan yang ingin menggunduli rimba mereka.
“Kalau hutan hilang, kita juga hilang,” ucap Mira, ibu muda dari suku Punan di Kalimantan Tengah. Ia mulai mengajar anak-anak di kampungnya mengenal nama-nama pohon dalam bahasa lokal. Katanya, kalau nama-nama itu lenyap, maka hilanglah cara kita mengenali hutan.
Puisi pendek ini ia ajarkan pada anak-anak:
Rimba bukan hanya tempat tinggal,
tapi rumah cerita dan nyanyian awal.
Jika akar hilang dari tanah,
maka tubuh kita pun ikut patah.
Baca Juga : Kalimantan Tour: Dari Desa Terapung sampai Taman Nasional
Suara yang Jarang Didengar

Dalam narasi besar soal lingkungan, nama-nama besar kerap disebut. Tapi suara perempuan adat jarang masuk dalam ruang diskusi. Padahal mereka menyimpan ingatan kolektif tentang alam, tahu kapan musim buah datang, tahu air sungai sedang bersih atau tercemar hanya dari warna dan bau.
Banyak dari mereka juga jadi penjaga spiritual hutan, yang merawat ritual adat dan batas-batas sakral. Dalam budaya Dayak, perempuan punya posisi penting dalam menjaga keseimbangan antara manusia dan alam. Tapi globalisasi dan proyek-proyek pembangunan sering kali mengikis ruang hidup itu, tanpa bertanya dulu pada mereka.
Kini, suara-suara itu mulai muncul, pelan-pelan. Melalui dokumentasi warga, film pendek, hingga gerakan akar rumput, cerita mereka mulai sampai ke telinga publik. Tapi jalan masih panjang. Mereka masih perlu didengar, dilindungi, dan diberi ruang untuk berbicara atas nama hutan yang mereka rawat.
Baca Juga : Lintas Borneo – Perjalanan Darat Panjang di Negeri Seribu Hutan
Menutup dengan Harap
Hutan Kalimantan menyimpan rahasia kehidupan. Di dalamnya, ada perempuan-perempuan penjaga hutan yang terus menyulam harapan dari daun dan tanah. Mereka tak pernah minta dikenal. Tapi dunia layak tahu, bahwa pelindung hutan tak selalu berseragam, kadang mereka hanya berbalut sarung dan membawa bakul rotan di punggung.
![]()

Pulau Serangan Bali : Tentang Jati Diri yang Direnggut Paksa - Destinasi Bali
[…] tinggal membangun kembali dari puing yang tersisa. Mereka tahu, pulau ini bukan sekadar lokasi. Ini tanah kelahiran. tempat orang tua mereka dimakamkan. Tempat di mana doa-doa dilepas ke laut, berharap anak cucu […]
Goa Batu Hapu - Tapak Purba di Tengah Alam Hulu Sungai - Eksotik Kalimantan
[…] Baca Juga : Perempuan Penjaga Hutan – Suara Sunyi dari Pinggir Rimba […]
Beach House Balikpapan – Satu Hari Di Antara Laut dan Hening - Eksotik Kalimantan
[…] Baca Juga : Perempuan Penjaga Hutan – Suara Sunyi dari Pinggir Rimba […]
Subak Jatiluwih – Filosofi Hidup dan Warisan Dunia - Destinasi Bali
[…] hijau tak berujung. Tapi lebih dari itu, kamu bisa belajar—tentang bagaimana manusia bisa hidup selaras dengan alam, bukan […]