Wisata Bukit Kelam Sintang: Di sini Gue Merasa Kecil Namun Melegakan
Kenalin, nama gue Awan. Umur gue baru nyentuh angka dua puluh lima. Orang bilang ini fase Quarter Life Crisis, di mana lo mulai panik soal karir, jodoh, dan masa depan.
Tapi gue lebih suka nyebut fase ini sebagai “Studi Lapangan”. Gue lagi nyoba keluar dari zona nyaman, ngumpulin data soal gimana caranya menikmati hidup tanpa banyak overthinking.
Dan “penelitian” gue hari ini membawa gue jauh ke pedalaman Kalimantan Barat. Gue berdiri di depan sebuah objek ikonik yang jadi primadona wisata Bukit Kelam Sintang. Tempat yang bikin semua masalah di kepala gue mendadak kerasa receh.
Si Raksasa Hitam yang Tidur
Jujur, pas pertama kali liat langsung, gue sempet bengong.
Gue kira cuma bukit biasa. Ternyata ini beneran satu bongkah batu andesit raksasa yang “geletak” gitu aja di tengah hutan. Warnanya hitam legam, tingginya hampir seribu meter. Pas kabut Februari turun pelan-pelan nutupin puncaknya, vibe-nya mistis banget tapi gagah.

Berdasarkan data yang gue baca, banyak yang bilang ini adalah batu monolit terbesar di dunia, bahkan diklaim lebih gede dari Uluru di Australia. Tapi data di kertas beda rasanya sama liat langsung. Liat langsung bikin lutut lemes, Bro.
Baca Juga : Desa Budaya Pampang: Bertemu Generasi Terakhir Telinga Panjang
Ngopi Bareng Pak Tejo
Karena ujan gerimis mulai turun, gue melipir ke sebuah warung kopi sederhana di kaki bukit. Di sana ada Pak Tejo (bukan nama sebenernya), warga lokal yang lagi ngerokok santai.
“Gede banget ya, Pak,” kata gue basa-basi sambil nyeruput kopi hitam panas.
Pak Tejo ketawa, “Itu mikulan Bujang Beji yang jatoh, Mas. Dulu mau dipake bendung sungai, tapi talinya putus.”
Gue senyum denger cerita itu.

Bentar, buat lo yang mungkin bingung, biar gue jelasin dikit konteksnya. Jadi, “mikulan” itu maksudnya barang bawaan yang dipikul. Legendanya, dulu ada raksasa sakti namanya Bujang Beji. Dia lagi mikul dua batu raksasa buat ngebendung sungai (buat nangkep ikan), tapi di tengah jalan dia diganggu dewi-dewi, talinya putus, dan boom—jatuhlah batu segede gaban ini yang sekarang jadi bukit.
Epik, kan?

Sebagai orang yang logis, gue tau ini fenomena geologi. Tapi denger langsung legenda itu dari warga lokal, rasanya jadi lebih “masuk”.
“Sering ada yang naik sampai atas, Pak?” tanya gue lagi. “Banyak, Mas. Wisata Bukit Kelam Sintang ini emang rame kalau hari libur. Tapi harus permisi dulu dalam hati. Jangan sombong,” jawab dia singkat.
Kata “jangan sombong” itu ngena banget di gue.
Baca Juga : Pendulangan Intan Cempaka: Mencari Kilau di Antara Lumpur dan Keringat
Ego yang Runtuh
Sambil mandangin dinding batu basah yang menjulang tegak lurus itu, gue jadi mikir.
Batu ini udah ada di sini jutaan tahun. Dia udah liat peradaban manusia datang dan pergi. Sementara gue? Gue cuma cowok 25 tahun yang pusing karena deadline atau mikirin chat yang nggak dibales.

Di hadapan batu monolit terbesar ini, gue merasa kerdil. Bener-bener kecil kayak butiran debu. Dan anehnya, perasaan “kecil” itu malah bikin gue tenang. Beban gue jadi kerasa ringan. Ternyata alam punya cara sendiri buat ngingetin kita supaya nggak usah terlalu serius sama ego sendiri.
Baca Juga : Tanjung Puting, Hujan Desember, dan Tatapan Orangutan Kalimantan
Kesimpulan Awan
Hari ini “studi kasus” gue selesai dengan satu kesimpulan: Kadang kita butuh liat sesuatu yang jauh lebih besar dari diri kita, biar sadar kalau kita ini cuma numpang lewat di bumi.

Buat lo yang lagi ngerasa sumpek, coba deh main ke sini. Liat langsung Bukit Kelam. Nggak usah mikir berat-berat, cukup duduk, ngopi, dan biarin raksasa hitam ini “ngobati” isi kepala lo.
Baca Juga : Bamboo Rafting, Hujan Desember, dan Cara Berdamai dengan Arus
Catatan Perjalanan
Akses ke lokasi wisata Bukit Kelam Sintang ini udah lumayan enak dari pusat kota, tapi tetep butuh fisik yang fit apalagi kalau lo mau trekking dikit.
Dan saran gue, abis brainstorming sama alam, badan lo butuh istirahat yang bener. Jangan paksain tidur di sembarang tempat. Sintang punya kok beberapa hotel yang nyaman buat recharge energi.
Cek rekomendasi penginapan yang aman dan nyaman di Sintang lewat Seindo Travel.
Sampai ketemu di catatan gue selanjutnya.
![]()

Leave a Reply