Gunung Tertinggi di Kalimantan dan Hal-hal yang Tak Pernah Selesai dalam Diri Kita

gunung tertinggi di kalimantan

Ada hari-hari ketika hidup terasa seperti punggungan gunung: panjang, diam, dan gak bilang apa-apa. Kita cuma bisa jalan, sambil nebak sendiri apa yang menunggu di balik tanjakan berikutnya. Dan entah kenapa, tiap kali gue dengar orang nanya gunung tertinggi di Kalimantan berada di mana, kepala gue selalu ngarah ke hal-hal yang tidak pernah benar-benar selesai dalam diri manusia.

Jawabannya sederhana—Schwaner Range, atau yang sering disebut Gunung Bukit Raya, yang jadi gunung tertinggi di Kalimantan. Berdiri sekitar 2.278 meter, tapi angka itu gak pernah berhasil ngejelasin apa yang gue rasain waktu pertama kali gue baca tentang gunung itu. Tinggi itu cuma angka; tapi diamnya, itu lain cerita.

Tentang Gunung yang Gak Pernah Ribut, dan Kita yang Terlalu Sering Berisik

Ada sesuatu yang tenang dari gunung. Entah gunung tertinggi di Kalimantan atau bukit kecil di kampung lu, semua punya bahasa yang sama: diam. Sementara manusia, termasuk gue, kadang ribut banget sama pikiran sendiri.

Dan anehnya, tiap kali gue baca soal gunung tertinggi di Kalimantan berapa meter, gue malah mikir:
berapa meter sebenarnya jarak antara diri kita dan hal-hal yang pengen kita maafin?
berapa meter jarak antara ambisi dan kenyataan?
berapa meter jarak antara orang yang bilang “gua gak apa-apa” sama isi hatinya yang sebenarnya?

Ternyata jauh juga.

Kadang lebih tinggi daripada Bukit Raya.

Baca Juga : Kalimantan Hari Ini – Catatan Perjalanan dari Rimba ke Kota

Tempat yang Diamnya Bisa Ngelurusin Pikiran

Gue belum sampai ke puncaknya. Mungkin suatu hari. Tapi dari cerita orang lokal dan ekspedisi kecil yang pernah gue ikuti di pedalaman, gue tau satu hal: tanah Kalimantan selalu punya cara buat ngehadepin manusia sampai kita gak punya pilihan selain jujur sama diri sendiri.

gunung bukit raya - pegunungan schwaner - gunung tertinggi di kalimantan

Bukan cuma karena rimbanya gede, atau karena kabut pagi sering turun kayak tirai tebal. Tapi karena banyak tempat di Kalimantan yang kayak ruang kosong—ruang yang bikin pikiran kita kedengeran lebih jelas.

Di situ, pertanyaan gunung tertinggi di Kalimantan berada di mana berubah jadi:
“lu sebenarnya lagi nyari apa dalam hidup?”

Baca Juga : Bumi Putera dan Ekspedisi Kalimantan yang Tak Ada di Buku Panduan

Gunung, Diri Sendiri, dan Semua yang Belum Kelar

Yang namanya hidup, gak semua bisa dirayain dengan sorak-sorai. Ada yang harus diterima pelan-pelan, ada yang harus dilepas diam-diam. Sama kayak gunung: ada yang bisa lu daki, ada yang cuma bisa lu pandangi dari jauh karena belum waktunya.

Mungkin itu kenapa gue suka banget konsep memandang sesuatu tanpa harus memilikinya. Gunung tertinggi di Kalimantan pun begitu. Bahkan buat sebagian orang lokal, gunung itu bukan destinasi, tapi pengingat. Pengingat bahwa ada hal-hal yang berdiri tak tergoyahkan, sekaligus hal-hal dalam diri manusia yang justru rapuh banget.

Gue pernah denger seorang bapak Dayak bilang:

“Gunung tinggi itu bukan untuk ditaklukkan.
Tapi untuk ngingetin kita bahwa ada batas yang gak harus kita lewati.”

Waktu itu gue cuma diem. Soalnya, kadang manusia terlalu pengen menyelesaikan semua hal dalam hidup, padahal gak semuanya perlu diselesaikan.

Baca Juga : Belajar Bahasa Kalimantan di Warung Kopi

Lalu, Apa yang Kita Kejar?

Gue nulis ini bukan buat ngasih jawaban.
Gue gak tau.

gunung bukit raya - pegunungan schwaner - gunung tertinggi di kalimantan

Tapi gue tau bahwa tiap kali orang nanya gunung tertinggi di kalimantan berapa meter, gue jadi sadar: manusia itu lucu. Kita terlalu fokus pada angka, tapi lupa mendengar apa yang gunung mau bilang: bahwa beberapa hal gak harus selalu naik. Ada yang cukup dipahami. Ada yang cukup dihormati. Dan ada juga yang cukup diterima.

Dan mungkin, hal-hal yang belum selesai itu bukan masalah.
Mungkin memang gak perlu selesai.

Baca Juga : Lupakan Diet! 5 Rasa Otentik Kuliner Khas Pontianak yang Dijamin Tak Akan Kamu Temui di Jakarta

Penutup yang Gak Benar-benar Menutup

Gunung tertinggi di Kalimantan tetap berdiri di sana, jauh, tenang, dan gak pernah minta perhatian. Sementara kita, manusia kecil dengan pikiran besar, terus nyari apa saja yang bisa kita jadikan pegangan.

Kadang itu cinta.
Kadang itu ambisi.
Kadang itu kebebasan.
Kadang itu cuma sebuah puncak bernama Bukit Raya di pegunungan Schwaner.

Dan gue rasa, selama kita masih punya hal-hal yang pengen kita pahami, gunung dalam hidup kita gak akan pernah benar-benar hilang.

Mungkin itu bagus.
Karena yang membuat kita hidup bukan puncaknya, tapi perjalanan menuju ke sana.

Baca Juga : Ketika Hutan Bercerita lewat Daun Sangga Kalimantan

Loading

You Might Also Like

Leave a Reply