Kalimantan Hari Ini – Catatan Perjalanan dari Rimba ke Kota

kalimantan hari ini

Di atas perahu kecil yang bergoyang pelan, Bumi Putera menatap langit yang mulai berwarna abu-abu. Angin membawa aroma lumpur dan daun basah, sesuatu yang dulu begitu akrab — tapi kini terasa seperti kenangan yang mulai pudar. “Kalimantan hari ini,” gumamnya pelan, “sudah tak lagi sama.”

Dari kejauhan, suara mesin perahu lain terdengar, bercampur dengan gema tawa anak-anak di tepian. Suara yang dulu selalu membuatnya tenang, kini terdengar asing, tertutup riuh proyek, pabrik, dan jalan baru yang terus dibuka. Di satu sisi, ada kemajuan. Di sisi lain, ada hutan yang hilang tanpa sempat berpamitan.

Dari Rimba ke Kota

Sudah hampir dua minggu Bumi meninggalkan pedalaman. Ia melewati jalan-jalan baru yang dulu hanyalah tanah merah. Sekarang, aspal panas membelah rimba dan membawa mobil-mobil besar dengan logo perusahaan di pintunya.

kalimantan hari ini

Di perjalanan menuju kota, ia sempat berhenti di warung kayu di pinggir jalan. Seorang bapak tua duduk sambil menyeruput kopi hitam.
“Dulu di sini masih banyak orang ngambil rotan,” kata si bapak sambil menunjuk ke arah perbukitan.
“Sekarang, yang datang cuma alat berat.”

Bumi mengangguk. Ia tak ingin menambah kata. Kadang, diam adalah bentuk penghormatan — pada cerita yang tak lagi punya tempat untuk diceritakan.

Baca Juga : Bumi Putera dan Ekspedisi Kalimantan yang Tak Ada di Buku Panduan

Kalimantan Hari Ini

Kalimantan hari ini, pikirnya, bukan sekadar soal peta atau proyek besar yang katanya demi pangan dan energi. Tapi juga tentang kehilangan yang pelan-pelan disamarkan. Orang-orang masih hidup, iya. Tapi hidupnya kini berpacu dengan waktu, bukan lagi dengan alam.

cafe estetik

Di kota, Bumi melihat deretan kafe baru. Anak muda dengan laptop dan kopi di tangan. Beberapa dari mereka bicara tentang “green movement”, tentang “eco living”, tapi dengan AC menyala dan sedotan plastik masih di gelas mereka. Ia tidak ingin menghakimi — hanya tersenyum getir. Barangkali begitulah cara generasi baru mencintai alam: lewat wacana, bukan lewat tanah yang kotor di bawah kuku.

Baca Juga : Belajar Bahasa Kalimantan di Warung Kopi

Kembali ke Diri Sendiri

Malam itu, Bumi berdiri di balkon penginapan sederhana, menatap cahaya kota yang menggantikan bintang-bintang. Ia menulis di buku kecilnya, sesuatu yang kelak mungkin tak akan dibaca siapa pun:

“Kalimantan hari ini adalah cermin: antara yang ingin berubah dan yang takut kehilangan diri sendiri.”

rain and night

Ia menutup bukunya perlahan. Di luar, hujan turun pelan, menyamarkan suara jalan raya. Dalam diam itu, Bumi merasa — meski tak sepenuhnya ia pahami — bahwa perjalanan ini belum selesai. Bahwa rimba, kota, dan dirinya sendiri masih punya cerita yang sama-sama mencari arti “pulang”.

Baca Juga : Lupakan Diet! 5 Rasa Otentik Kuliner Khas Pontianak yang Dijamin Tak Akan Kamu Temui di Jakarta

Catatan Penutup

Kalimantan hari ini bukan hanya tentang hutan dan kota, tapi tentang manusia-manusia di antaranya — yang berjuang, menyesuaikan diri, dan kadang, kehilangan arah.
Dan mungkin, lewat catatan kecil seperti milik Bumi Putera, kita diajak untuk berhenti sejenak, melihat sekitar, lalu bertanya dengan jujur:
apakah benar kita sedang maju, atau hanya sedang lupa pulang?

Kalau kamu juga ingin menelusuri Kalimantan dengan caramu sendiri — dari kota yang sibuk sampai heningnya rimba — temukan penerbangan dan penginapan terbaikmu bersama kami. Karena setiap perjalanan punya cerita, dan Kalimantan masih menunggu untuk diceritakan.

Baca Juga : Ketika Hutan Bercerita lewat Daun Sangga Kalimantan

Loading

You Might Also Like

Leave a Reply