Flora dan Fauna di Kalimantan: Antara Surga Tropis dan Ancaman Senyap
“Kalau hutan ini hilang, siapa lagi yang akan nyanyi buat kami?” begitu kata Pak Daniel, seorang warga Dayak di pedalaman Kalimantan, sambil menatap pohon besar yang menjulang. Suaranya tenang, tapi dalam sekali.
Dan memang benar. Kalimantan itu bukan sekadar peta di atlas atau berita tentang tambang. Ia adalah rumah besar, tempat flora dan fauna di Kalimantan hidup berdampingan dengan manusia. Surga tropis yang kadang terasa abadi, tapi diam-diam sedang digerogoti pelan-pelan.
Pohon Raksasa, Anggrek Misterius
Coba bayangin, berdiri di tengah hutan, di bawah pohon, Dipterocarpaceae yang tingginya bisa nyaris nyentuh langit. Daunnya bergemerisik, seakan berbisik.

“Waktu kecil, saya suka tidur di akar pohon ini,” cerita Lilis, seorang perempuan muda dari desa kecil di Kutai. “Rasanya kayak dipeluk bumi sendiri.”

Di sela akar dan dahan itulah, anggrek hitam si cantik misterius tumbuh diam-diam. Bunga yang langka, kelopaknya hitam berkilau, seperti rahasia yang nggak semua orang bisa lihat. Dan jangan lupa rafflesia, dengan ukuran bunganya yang luar biasa besar, seolah bilang: alam bisa aneh, indah, sekaligus menakjubkan.
Baca Juga : Bukan Sekadar Minuman Biasa, Ini 5 Alasan Kenapa Liang Teh Pontianak Selalu Diburu!
Suara Hutan yang Nggak Pernah Sepi

Kalau malam tiba, hutan Kalimantan nggak pernah benar-benar sunyi. Ada suara serangga, burung, dan kadang suara bekantan yang terdengar lucu sekaligus asing.
“Bekantan itu kayak tetangga yang nggak bisa diam,” kata Budi, seorang pemandu lokal sambil ketawa kecil. “Tapi kalau hilang, hutan jadi aneh. Sepi.”

Di pagi hari, suara burung enggang menggetarkan udara. Bagi banyak orang Dayak, burung ini suci simbol kehidupan. Dan di balik bayangan hutan, ada macan dahan yang jarang terlihat. Hewan ini senyap, tapi aura liarnya bikin kita sadar, kita sedang bertamu di rumahnya, bukan sebaliknya.
Dan tentu saja, ada orangutan. Matanya dalam sekali. Pernah ada orang bilang, kalau menatap orangutan, rasanya seperti menatap cermin kita melihat diri kita sendiri, tapi dalam bentuk yang lebih jujur. Ya, itulah sedikit gambaran soal flora dan fauna di Kalimantan.
Baca Juga : Kwecap Veteran Pontianak, Jejak Tua yang Masih Menguap di Mangkuk Panas
Ancaman yang Mengintai

Tapi bro, mari jujur sebentar. Semua keindahan ini nggak selamanya aman. Data menunjukkan, jutaan hektar hutan di Kalimantan sudah lenyap untuk tambang, sawit, atau proyek food estate.

Pak Daniel tadi menghela napas panjang, lalu berkata:
“Orangutan itu nggak bisa rapat di hotel untuk minta rumahnya dikembalikan. Burung enggang nggak bisa bikin proposal. Mereka cuma bisa diam. Tapi diam mereka itu sebenarnya teriakan.”
Dan kita, manusia, sering kali pura-pura nggak dengar.
Baca Juga : Chinese Food Balikpapan – Makan Malam, Nostalgia, dan Cerita Lama
Menjaga Apa yang Masih Ada
Flora dan fauna di Kalimantan itu bukan sekadar objek wisata atau bahan buku biologi. Mereka adalah nafas pulau ini. Mereka yang bikin hujan turun, udara segar terasa, dan sungai tetap hidup.

“Kalau hutan habis, kita habis,” kata Lilis sambil menatap kabut tipis di pagi hari. “Itu saja.”
Pertanyaannya, apakah kita mau jadi generasi yang dikenang karena menjaga, atau yang dikenang sebagai perusak terakhir surga tropis?
Baca Juga : Ketika Langit Bercerita: Cuaca Kalimantan dan Wajah Asli Pulau Borneo
Kalimantan sudah memberi kita segalanya: oksigen, air, dan kehidupan. Sekarang giliran kita yang harus belajar memberi balik.
![]()

Leave a Reply