East Kalimantan – Di Antara Hening Sungai dan Suara Tanah yang Berubah
Ada yang bilang East Kalimantan itu rumah bagi hutan hujan terakhir yang berdiri gagah di Indonesia. Ada juga yang menyebutnya “pintu gerbang masa depan” karena megaproyek ibu kota negara baru. Di atas kertas, semua terdengar indah. Pembangunan, kemajuan, peluang. Tapi kalau kamu duduk di tepi Sungai Mahakam saat senja, dan diam cukup lama, kamu akan dengar cerita yang nggak ada di brosur pariwisata.
Urat Nadi Kampung Pedalaman
Sungai ini pernah jadi nadi perdagangan, jalur hidup bagi nelayan, dan urat nadi yang menghubungkan kampung-kampung di pedalaman. Sekarang, di beberapa titik, warnanya mulai keruh. Bukan karena hujan, tapi karena tanah yang terganggu, hutan yang hilang, dan kapal-kapal besar yang datang bukan untuk membawa cerita, melainkan mengambil sesuatu yang tak akan kembali.
Baca Juga : Tarakan Tourism: Kota Kecil, Kejutan Besar!
Bertumpu Pada Apa yang Hutan Berikan
Hutan-hutan di East Kalimantan bukan sekadar deretan pohon tinggi yang instagramable. Mereka adalah rumah bagi orangutan, bekantan, dan ratusan spesies burung yang nggak bisa ditemukan di tempat lain. Tapi juga rumah bagi manusia, masyarakat adat yang hidupnya bertumpu pada apa yang hutan berikan. Saat hutan hilang, bukan cuma satwa yang kehilangan rumah. Ada bahasa yang mati, tradisi yang pudar, dan anak-anak yang tumbuh tanpa tahu bagaimana membaca rasi bintang di atas rimba.
Baca Juga : Laut Menolak, Hutan Mengutuk – Cerita Rakyat Kalimantan yang Jadi Nyata
Dua Wajah East Kalimantan
Kadang kita terjebak dalam dua wajah East Kalimantan. Di satu sisi, kamu bisa berlayar di perairan Derawan yang beningnya seperti kaca, melihat penyu raksasa berenang bebas, atau berjalan di tengah hutan mangrove yang sunyi tapi penuh kehidupan. Di sisi lain, hanya beberapa kilometer dari sana, ada lahan yang terbuka lebar, ditinggalkan alat berat, meninggalkan tanah yang gersang seperti bekas luka.
Baca Juga : Kalau ke Kalimantan, Harus Bisa Bahasa Apa? Ini Jawabannya
Hadir Sebagai Siapa?
Kalau kamu datang sebagai traveler, East Kalimantan mungkin akan menyambutmu dengan laut biru, pasar tradisional yang ramai, dan senyum hangat dari orang-orang yang belum pernah kamu temui sebelumnya. Tapi kalau kamu datang sebagai pendengar, East Kalimantan akan membisikkan sesuatu yang lebih berat yaitu tentang pilihan yang kita buat sebagai bangsa, dan harga yang harus dibayar untuk kata ‘kemajuan’.
Baca Juga : Long Nawang – Ketika Jalan Menuju Rumah Sendiri Terlupakan
Mengagumi Tanpa Merasa Perlu ‘Memiliki’
Karena itu, perjalanan ke East Kalimantan seharusnya nggak cuma jadi tentang foto-foto cantik. Datanglah untuk melihat, tapi juga untuk mendengar. Rasakan desiran angin di hutan, bau tanah basah setelah hujan, dan suara burung yang memanggil dari kejauhan. Cari tahu cerita di balik setiap dermaga, tanya arti nama desa yang kamu lewati, dan biarkan dirimu belajar dari orang-orang yang sudah ratusan tahun hidup di sini tanpa pernah merasa perlu ‘memiliki’ hutan. Karena bagi mereka, hutan itu bukan barang. Hutan itu hidup.
East Kalimantan bukan sekadar destinasi. Dia adalah cermin. Saat kamu menatapnya, kamu akan melihat bukan hanya bentang alam yang megah, tapi juga refleksi diri tentang siapa kita, dan apa yang sebenarnya mau ktia tinggalkan untuk generasi berikutnya.
Baca Juga : Kalimantan Borneo – Ketika Tanah Jadi Rumah dan Hutan Menjadi Ibu
![]()

Leave a Reply