Kalau ke Kalimantan, Harus Bisa Bahasa Apa? Ini Jawabannya

bahasa kalimantan

Bayangkan kamu sedang jalan di tepian Sungai Mahakam, duduk santai sambil ngopi di warung kayu, dan tiba-tiba ada bapak-bapak ngajak ngobrol, “Ikam dari mana?
Kalau kamu bengong, lalu jawab, “Hah?”, berarti saatnya kamu kenalan lebih dekat sama bahasa Kalimantan.

Kalimantan bukan cuma hutan tropis, sungai deras, dan tambang yang tak pernah tidur. Pulau ini juga rumah bagi ratusan budaya yang hidup, bernafas, dan… berbicara. Tapi, Kalimantan menggunakan bahasa apa, sih sebenarnya? Apakah cuma Bahasa Indonesia saja yang berlaku? Jawabannya: nggak sesederhana itu.

Lebih dari Sekadar Bahasa Indonesia

Secara administratif, tentu Bahasa Indonesia jadi bahasa resmi yang digunakan di sekolah, kantor pemerintahan, media, dan ruang publik. Tapi kalau kamu masuk ke kehidupan sehari-hari masyarakat Kalimantan, entah di kota atau pedalaman yang kamu temui justru beragam logat, aksen, dan kosakata khas yang bikin kepala serasa nyemplung ke dunia baru.

Misalnya di Kalimantan Selatan, kamu akan mendengar bahasa Banjar:

Handak ke mana pian?” (Mau ke mana kamu?)

Di Kalimantan Timur, terutama daerah Dayak Kenyah dan Kayan, kamu akan mendengar sapaan seperti:

Selamat datai, teman.” (Selamat datang, teman.)

Sementara di Kalimantan Barat, komunitas Melayu dan Dayak saling menyapa dengan gaya yang khas:

Kamek orang sini bah…” (Saya orang sini, loh…)

Semua itu adalah bahasa daerah Kalimantan yang masih aktif digunakan dalam keseharian, terutama di kampung, pasar, dan ruang-ruang non-formal.

Baca Juga : Long Nawang – Ketika Jalan Menuju Rumah Sendiri Terlupakan

Ada Berapa Bahasa Daerah di Kalimantan?

Menurut data Badan Bahasa, ada lebih dari 70 bahasa daerah yang dituturkan di Kalimantan. Beberapa di antaranya sudah dikodifikasikan dan masuk dalam pemetaan bahasa nasional, tapi masih banyak yang hidup secara lisan dari generasi ke generasi di rumah, di ladang, di sungai.

Beberapa yang paling dikenal:

  • Bahasa Banjar (Kalsel)
  • Bahasa Dayak Ngaju (Kalteng)
  • Bahasa Kenyah, Kayan, dan Punan (Kaltim & Kaltara)
  • Bahasa Iban dan Melayu Sambas (Kalbar)

Tiap bahasa ini bukan cuma beda kosakata, tapi juga beda ritme bicara, nada suara, dan filosofi di baliknya.

Baca Juga : Kalimantan Borneo – Ketika Tanah Jadi Rumah dan Hutan Menjadi Ibu

Bahasa Adalah Identitas, Bukan Sekadar Alat Bicara

Ketika kamu tahu bahwa satu kampung masih bertahan menggunakan bahasanya sendiri meski internet sudah masuk dan anak mudanya pegang smartphone, kamu akan sadar satu hal: bahasa adalah napas budaya. Ia bukan sekadar alat komunikasi, tapi juga penanda siapa kita, dari mana kita berasal, dan bagaimana kita melihat dunia.

Sayangnya, sebagian bahasa daerah di Kalimantan mulai terdesak oleh dominasi bahasa nasional dan budaya populer. Anak-anak muda makin jarang bicara dengan bahasa ibu mereka. Padahal, begitu bahasa hilang, sebagian jiwa komunitas itu ikut terkubur.

Baca Juga : Krayan — Garam Pegunungan dan Cerita yang Tak Pernah Tua

Jadi, Harus Bisa Bahasa Apa Kalau ke Kalimantan?

Jawabannya: cukup bawa rasa hormat dan rasa ingin tahu.

Kalau kamu berani menyapa dengan satu dua kata lokal “pian”, “ikam”, “kamek”, “selamat datai”, percayalah, kamu bukan cuma jadi tamu, tapi dianggap saudara.
Dan siapa tahu, dari situ kamu bisa belajar satu hal yang tak pernah diajarkan Google, yaitu rasa diterima.

Baca Juga : Orangutan, Ilmuwan dan Catatan dari Camp Leakey Kalimantan

Loading

You Might Also Like

2 Comments

  1. Di Lovina Beach Bali, Kita Belajar Mendengar Laut - Destinasi Bali

    […] lumba-lumba di laut lepas adalah pengalaman yang lembut tapi membekas. Tidak ada jaminan mereka akan muncul, dan mungkin itu yang membuatnya […]

  2. Laut Menolak, Hutan Mengutuk – Cerita Rakyat Kalimantan yang Jadi Nyata

    […] Baca Juga : Kalau ke Kalimantan, Harus Bisa Bahasa Apa? Ini Jawabannya […]

Leave a Reply